Latar Belakang
Dalam perkembangannya dunia islam selalu mengalami pasang
surut dan disini saya akan memaparkan tentang periode-periode yang ada pada
kerajaan Turki Usmani mulai dari awal berdirinya sampai keruntuhannya, karena
kerajaan Turki Usmani inilah yang menjadi sebuah pioner dalam perkembangan
dunia islam pada masanya dan juga kehancurannya menjadi sebuah pembuka masuknya
era industrialisasi kedunia islam
Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan
tentara Mongol,kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara
drastis.Wilayah kekuasaannya tercabik – cabik dalam beberapa kerajaan kecil
yang satu sama lain,bahkan saling memerangi.Beberapa peninggalan budaya dan
peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol
itu.Namun,kemalangan tidak sampai disitu.Timur Lenk, telah
disebut,menghancurkan pusat – pusat kekuasaan Islam yang lain.
Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali
setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar.Usmani Di Turki,Mughal Di
India,dan Safawi di Persia.Kerajaan Usmani,selain yang pertama berdiri,juga
yang tebesar dan paling tahan lama di banding dua kerajaan lainnya.
2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Turki Usmani
Pada masa Turki
Usmani,pendidikan,pengajaran dan Ilmu pengetahua mengalami kemunduran,terutama
di Mesir,Bagdad dan lain lain yang mula mula mendirikan madrasah pada masa
kekhalipahan pada masa Turki adalah Sultan Urkhan(761 H – 1359 M) Di ikuti oleh
Sultan – sultan Usmaniyah.Madrasah – madrasah termasyur adalah madrasah yang
didirikan oleh Sulaiman Al Qanuni.Sultan – Sultan Turki lebih banyak mendirikan
mesjid mesjid dan madrasah terutama di Istambul dan Mesir.[1]
Kemajuan dan perkembangan wilayah
kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh
kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting,
diantaranyadalambidangpendidikan.
Salah satu lembaga yang maju pada
masa turki usmani adalah madrasah, didorong mempelajari beragam ilmu
pengetahuan. Lembaga pendidikan berserak saat berlangsungnya pemerintahan Turki
Usmani. Salah satunya adalah madrasah. Bukan hanya kuantitas bangunan yang
menjadi perhatian, juga kualitas pendidikan. Terobosan bermakna dalam hal ini
adalah perumusan kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan di madrasah berkembang
secara dinamis menuju ke arah lebih baik. Salah satu hal yang berlaku dalam
proses pengajaran di madrasah Turki Usmani adalah mendorong para siswa untuk
mengakses sebanyak mungkin buku yang membahas beragam bidang ilmu.[2]
Pendidikan Pada Masa Turki Utsmani
Setelah mesir jatuh dibawah kekuasaan Utsmaniyah Turki, lalu
Sultan Salim memerintahkan, supaya kitab-kitab diperpustakaan dan barang-barang
yang berharga di Mesir dipindahkan ke Istambul. Anak-anak Sultan Mamluk,
ulama’-ulama’, pembesar-pembesar yang berpengaruh di Mesir, semuanya dibuang ke
Istambul, setelah mengundurkan diri sebagai khalifah dan menyerahkan pangkat
khalifah itu kepada Sultan Turki.
Dengan demikian Sultan Turki
memegang dua kekuasaan: kekuasaan sebagai sultan dalam urusan duniawi dan
kekuasaan sebagai Khalifah dalam urusan agama.
Dengan berpindahnya ulama’-ulama’ dan kitab-kitab
perpustakaan dari Mesir ke Istanbul, maka Mesir menjadi mundur dalam ilmu
pengetahuan dan pusat pendidikan berpindah ke Istambul, tempat kedudukan Sultan
dan Khalifah. Dan Istambullah yang menjadi pusat pendidikan dan
kebudayaan saat itu.
Selain itu Sultan Salim mengumpulkan
kepala-kepala perusahaan yang termashur di Mesir berjumlah kurang lebih 1000
orang banyaknya. Semua mereka dipindahkan ke Istambul,Mesir terpaksa ditutup.
Itulah salah satu sebab mundurnya perusahaan di Mesir pada masa Utsmaniyah
Turki.
Setelah Sultan Salim wafat, lalu
digantikan oleh anaknya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (926-974 H = 1520-1566 M).
Pada masa Sultan Sulaiman itu kerajaan Utsmaniyah sampai kepuncak kebesaran dan
kemajuan yang gilang gemilang dalam sejarahnya. Laut putih tengah, laut hitam,
dan laut merah semua dalam kekuasaannya. Luas negaranya dari Makkah ke Budapes
dan dari Baghdad ke Aljazair. Tetapi sesudah wafat Sultan Sulaiman kerajaan
Utsmaniyah mulai mundur sedikit demi sedikit.
Pada masa Utsmaniyah Tuki pendidikan
dan pengajaran mengalami kemunduran, terutama diwilayah-wilayah, seperti Mesir,
Baghdad dan lain-lain. Yang mula-mula mendirikan madrasah pada masa Utsmaniyah
Tuki ialah Sultan Orkhan (wafat tahun 761 H = 1359 M.). kemudian diikuti oleh
Sultan-Sultan keluarga Utsmaniyah dengan mendirikan madrasah-madrasah, yang didirikan
oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Sultan-sultan pada masa Utsmaniyah banyak
mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah terutama di Istambul dan Mesir.
Tetapi tingkat pendidikan itu tidak mengalami perbaikan dan kemajuan
sedikitpun. Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi kitab-kitab yang
tidak sedikit bilangannya. Tiap-tiap orang bebas membaca dan mempelajari isi
kitab itu. Bahkan banyak pula ulama, guru-guru, ahli sejarah dan ahli syair
pada masa itu. Tetapi mereka-mereka itu hanya mempelajari kaidah-kaidah
ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab, serta sedikit ilmu berhitung utuk membagi
harta warisan dan ilmu miqat untuk mengetahui waktu sembahyang. Mereka tidak
terpengaruh oleh pergerakan ilmiyah di Eropa dan tidak mau pula mengikuti jejak
zaman kemajuan Islam pada masa Harun Ar-Rasyid dan masa Al-Makmun, yaitu masa
keemasan dalam sejarah Islam. Demikianlah keadaan pendidikan dan pengajaran
pada masa Utsmaniyah Turki, sampai jatuhnya sultan atau khalifah yang terakhir
tahun 1924 M.[3]
Sistem pengajaran yang dikebangkan pada Turki Utsmani adalah
menghafal matan-matan meskipun murid-murid tidak mengerti maksudnya, seperti
menghafal Matan Al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sultan, dan
lain-lain. Murid-murid setelah menghafal matan-matan itu barulah
mempelajari syarahnya. Karena pelajaran itu bertambah berat dan bertambah sulit
untuk dihafalkannya. Sistem pengajaran diwilayah ini masih digunakan sampai
sekarang. Pada masa pergerakan yang terakhir, masa pembaharuan pendidikan Islam
di Mesir dan Syiria (tahun 1805 M) telah mulai diadakan perubahan-perubahan di
sekolah-sekolah (madrasah) sedangkan di Masjid masih mengikuti sistem yang
lama.[4]
Meskipun pada masa Turki Utsmani pendidikan Islam kurang
mendapat perhatian yang serius dan juga terhambat kemajuannya, tetapi tidak
dapat dipungkiri bahwa tiap-tiap masa pasti akan memunculkan tokoh-tokoh atau
ulama’-ulama’ternama. Walaupun jumlah ulama’ pada masa itu
tidak sebanyak pada masa Abbasiyah yang merupakan puncak keemasan Islam.[5]
Sistem Pengajaran di Turki
Sistem pengajaran pada masa Turki
seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu dengan cara menghafal matan-matan,
seperti menghafal Matan Al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sulam
dan lain-lain.
Adapun tingkat-tingkat pengajaran di
Turki adalah sebagai berikut:
1.
Tingkat Rendah (SR) 5 tahun
2.
Tingkat Menengah (SMP) 3 tahun
3.
Tingkat Menengah Atas (SMA) 3 tahun
4.
Tingkat tinggi (Universitas) 4 tahun
Dikelas IV dan V SR diajarkan ilmu
agama jika mendapatkan izin dari orang tua murid. Begitu juga diajarkan agama
dikelas III Sekolah Menengah (SMP) jika diminta oleh orang tua murid.[6]
Selain itu ada juga sekolah Imam Chatib (sekolah agama) 7
tahun, 4 tahun pada tingkat menengah pertama dan tiga tahun pada tingkat
menengah atas. Murid-murid yang diterima masuk sekolah imam chatib
itu ialah murid-murid tamatan SR 5 tahun. Untuk melanjutkan dari sekolah Imam
Chatib didirikan Institut Islam di Istambul pada tahun 1959, dan pengajarannya
berlangsung selama 4 tahun.
Dasar-dasar pengajarannya adalah
sebagai berikut:
1. Tafsir
2. Hadits
3. Bahasa Arab
4. Bahasa Turki
5. Filsafat
6. Sejarah
Kebudayaan islam
7. Ilmu Bumi
8. Dan lain-lain.[7]
Ulama’-Ulama’ yang Termashur Pada
Masa Turki Utsmani
Ulama’-ulama’ yang termashur pada
masa Utsmaniyah Turki diantaranya yaitu:
1. Syeikh Hasan Ali Ahmad
As-Syafi’i yang dimasyhurkan dengan Al-Madabighy,Jam’ul Jawami dan syarah
Ajrumiyah (wafat tahun 1170 H = 1756M) pengarang Hasiyah.
2. Ibnu Hajar Al-Haitsami
(wafat tahun 975H = 1567M) pengarang Tuhfah.
3. Syamsuddin Ramali (wafat
tahun 1004H = 1959H) pengarang Nihayah.
4. Muhammad bin
Abdur Razak, Murtadla Al-Husainy Az-Zubaidy, pengarang syarah Al-Qamus, bernama
Tajul Urus (wafat tahun 1205H = 1790M).
5. Abdur Rahman
Al-Jabarity (wafat tahun 1240H = 1825M), pengarang kitab tarikh Mesir, bernama
Ajaibul-Atsar Fit-Tarajim Wal-Akhbar.
6. Syekh Hasan
Al-Kafrawy As-Syafi’i Al-Azhary (wafat tahun 1202H = 1787M)pengarang kitab
nahwu Syarah Al-Jurumiyah, barnama Kafrawy.
7. Syeikh Sulaiman
bin Muhamad bin Umar Al-Bijirmy As-Syafi’i (wafat tahun 1212H = 1806M),
pengarang syarah-syarah dan hasyiah-hasyiah.
8. Syeikh Hasan Al-Attar (wafat tahun 1250H = 1834M), ahli ilmu pasti dan
ilmu kedokteran.
9. Syeikh
Muhammad bin Ahmad bin Arfah Ad-Dusuqy Al-Maliki (wafat tahun 1230H = 1814M)
ahli filsafat dan Imu falak serta ahli ilmu ukur.
10. Nuruddin Ali Al-Buhairi
(wafat tahun 944H = 1537M).
11. Abdurrahman Al-Manawy
(wafat tahun 950 H = 1543M).
12. Syahabuddin Al-Quliyuby.
13. Abdul-Baqybin Yusuf
Az-Zarqany Al-Maliki(1099H = 1687M).
14. Syeikh Abdulah Al-Syarqawy
(Syeikh Al-Azhar) (wafat tahun 1227H= 1812M).
15. Syekh Musthafa bin Ahmad
As-Shawy (wafat tahun 1216H = 1801 M).
16. Syeikh Musthafa
Ad-Damanhury As-Syafi’I (wafat tahun 1216H = 1801 M).[8]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar