Otomatis Muhammadiyah

Sabtu, 06 Desember 2014

KONDISI PENDIDIKAN PADA MASA TURKI USMANI

Latar Belakang
Dalam perkembangannya dunia islam selalu mengalami pasang surut dan disini saya akan memaparkan tentang periode-periode yang ada pada kerajaan Turki Usmani mulai dari awal berdirinya sampai keruntuhannya, karena kerajaan Turki Usmani inilah yang menjadi sebuah pioner dalam perkembangan dunia islam pada masanya dan juga kehancurannya menjadi sebuah pembuka masuknya era industrialisasi kedunia islam
Setelah khilafah Abbasiyah di Baghdad runtuh akibat serangan tentara Mongol,kekuatan politik Islam mengalami kemunduran secara drastis.Wilayah kekuasaannya tercabik – cabik dalam beberapa kerajaan kecil yang satu sama lain,bahkan saling memerangi.Beberapa  peninggalan budaya dan peradaban Islam banyak yang hancur akibat serangan bangsa Mongol itu.Namun,kemalangan tidak sampai disitu.Timur Lenk, telah disebut,menghancurkan pusat – pusat kekuasaan Islam yang lain.
            Keadaan politik umat Islam secara keseluruhan baru mengalami kemajuan kembali setelah muncul dan berkembangnya tiga kerajaan besar.Usmani Di Turki,Mughal Di India,dan Safawi di Persia.Kerajaan Usmani,selain yang pertama berdiri,juga yang tebesar dan paling tahan lama di banding dua kerajaan lainnya.
2.   Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Masa Turki Usmani
Pada masa Turki Usmani,pendidikan,pengajaran dan Ilmu pengetahua mengalami kemunduran,terutama di Mesir,Bagdad dan lain lain yang mula mula mendirikan madrasah pada masa kekhalipahan pada masa Turki adalah Sultan Urkhan(761 H – 1359 M) Di ikuti oleh Sultan – sultan Usmaniyah.Madrasah – madrasah termasyur adalah madrasah yang didirikan oleh Sulaiman Al Qanuni.Sultan – Sultan Turki lebih banyak mendirikan mesjid mesjid dan madrasah terutama di Istambul dan Mesir.[1]
Kemajuan dan perkembangan wilayah kerajaan Usmani yang luas berlangsung dengan cepat dan diikuti oleh kemajuan-kemajuan dalam bidang-bidang kehidupan lain yang penting, diantaranyadalambidangpendidikan.
Salah satu lembaga yang maju pada masa turki usmani adalah madrasah, didorong mempelajari beragam ilmu pengetahuan. Lembaga pendidikan berserak saat berlangsungnya pemerintahan Turki Usmani. Salah satunya adalah madrasah. Bukan hanya kuantitas bangunan yang menjadi perhatian, juga kualitas pendidikan. Terobosan bermakna dalam hal ini adalah perumusan kurikulum. Kurikulum yang diberlakukan di madrasah berkembang secara dinamis menuju ke arah lebih baik. Salah satu hal yang berlaku dalam proses pengajaran di madrasah Turki Usmani adalah mendorong para siswa untuk mengakses sebanyak mungkin buku yang membahas beragam bidang ilmu.[2]

Pendidikan Pada Masa Turki Utsmani
Setelah mesir jatuh dibawah kekuasaan Utsmaniyah Turki, lalu Sultan Salim memerintahkan, supaya kitab-kitab diperpustakaan dan barang-barang yang berharga di Mesir dipindahkan ke Istambul. Anak-anak Sultan Mamluk, ulama’-ulama’, pembesar-pembesar yang berpengaruh di Mesir, semuanya dibuang ke Istambul, setelah mengundurkan diri sebagai khalifah dan menyerahkan pangkat khalifah itu kepada Sultan Turki.
Dengan demikian Sultan Turki memegang dua kekuasaan: kekuasaan sebagai sultan dalam urusan duniawi dan kekuasaan sebagai Khalifah dalam urusan agama.
Dengan berpindahnya ulama’-ulama’ dan kitab-kitab perpustakaan dari Mesir ke Istanbul, maka Mesir menjadi mundur dalam ilmu pengetahuan dan pusat pendidikan berpindah ke Istambul, tempat kedudukan Sultan dan Khalifah. Dan Istambullah yang menjadi pusat pendidikan dan kebudayaan saat itu. 
Selain itu Sultan Salim mengumpulkan kepala-kepala perusahaan yang termashur di Mesir berjumlah kurang lebih 1000 orang banyaknya. Semua mereka dipindahkan ke Istambul,Mesir terpaksa ditutup. Itulah salah satu sebab mundurnya perusahaan di Mesir pada masa Utsmaniyah Turki.
Setelah Sultan Salim wafat, lalu digantikan oleh anaknya Sultan Sulaiman Al-Qanuni (926-974 H = 1520-1566 M). Pada masa Sultan Sulaiman itu kerajaan Utsmaniyah sampai kepuncak kebesaran dan kemajuan yang gilang gemilang dalam sejarahnya. Laut putih tengah, laut hitam, dan laut merah semua dalam kekuasaannya. Luas negaranya dari Makkah ke Budapes dan dari Baghdad ke Aljazair. Tetapi sesudah wafat Sultan Sulaiman kerajaan Utsmaniyah mulai mundur sedikit demi sedikit.
Pada masa Utsmaniyah Tuki pendidikan dan pengajaran mengalami kemunduran, terutama diwilayah-wilayah, seperti Mesir, Baghdad dan lain-lain. Yang mula-mula mendirikan madrasah pada masa Utsmaniyah Tuki ialah Sultan Orkhan (wafat tahun 761 H = 1359 M.). kemudian diikuti oleh Sultan-Sultan keluarga Utsmaniyah dengan mendirikan madrasah-madrasah, yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Sultan-sultan pada masa Utsmaniyah banyak mendirikan masjid-masjid dan madrasah-madrasah terutama di Istambul dan Mesir. Tetapi tingkat pendidikan itu tidak mengalami perbaikan dan kemajuan sedikitpun. Pada masa itu banyak juga perpustakaan yang berisi kitab-kitab yang tidak sedikit bilangannya. Tiap-tiap orang bebas membaca dan mempelajari isi kitab itu. Bahkan banyak pula ulama, guru-guru, ahli sejarah dan ahli syair pada masa itu. Tetapi mereka-mereka itu hanya mempelajari kaidah-kaidah ilmu-ilmu agama dan bahasa Arab, serta sedikit ilmu berhitung utuk membagi harta warisan dan ilmu miqat untuk mengetahui waktu sembahyang. Mereka tidak terpengaruh oleh pergerakan ilmiyah di Eropa dan tidak mau pula mengikuti jejak zaman kemajuan Islam pada masa Harun Ar-Rasyid dan masa Al-Makmun, yaitu masa keemasan dalam sejarah Islam. Demikianlah keadaan pendidikan dan pengajaran pada masa Utsmaniyah Turki, sampai jatuhnya sultan atau khalifah yang terakhir tahun 1924 M.[3]
Sistem pengajaran yang dikebangkan pada Turki Utsmani adalah menghafal matan-matan meskipun murid-murid tidak mengerti maksudnya, seperti menghafal Matan Al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sultan, dan lain-lain. Murid-murid setelah menghafal matan-matan itu barulah mempelajari syarahnya. Karena pelajaran itu bertambah berat dan bertambah sulit untuk dihafalkannya. Sistem pengajaran diwilayah ini masih digunakan sampai sekarang. Pada masa pergerakan yang terakhir, masa pembaharuan pendidikan Islam di Mesir dan Syiria (tahun 1805 M) telah mulai diadakan perubahan-perubahan di sekolah-sekolah (madrasah) sedangkan di Masjid masih mengikuti sistem yang lama.[4]
Meskipun pada masa Turki Utsmani pendidikan Islam kurang mendapat perhatian yang serius dan juga terhambat kemajuannya, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa tiap-tiap masa pasti akan memunculkan tokoh-tokoh atau ulama’-ulama’ternama. Walaupun jumlah ulama’ pada masa itu tidak sebanyak pada masa Abbasiyah yang merupakan puncak keemasan Islam.[5]
Sistem Pengajaran di Turki
Sistem pengajaran pada masa Turki seperti yang telah dijelaskan di atas yaitu dengan cara menghafal matan-matan, seperti menghafal Matan Al-Jurumiyah, Matan Taqrib, Matan Alfiyah, Matan Sulam dan lain-lain.

Adapun tingkat-tingkat pengajaran di Turki adalah sebagai berikut:
1.      Tingkat Rendah (SR) 5 tahun
2.      Tingkat Menengah (SMP) 3 tahun
3.      Tingkat Menengah Atas (SMA) 3 tahun
4.      Tingkat tinggi (Universitas) 4 tahun
Dikelas IV dan V SR diajarkan ilmu agama jika mendapatkan izin dari orang tua murid. Begitu juga diajarkan agama dikelas III Sekolah Menengah (SMP) jika diminta oleh orang tua murid.[6]

Selain itu ada juga sekolah Imam Chatib (sekolah agama) 7 tahun, 4 tahun pada tingkat menengah pertama dan tiga tahun pada tingkat menengah atas. Murid-murid yang diterima masuk sekolah imam chatib itu ialah murid-murid tamatan SR 5 tahun. Untuk melanjutkan dari sekolah Imam Chatib didirikan Institut Islam di Istambul pada tahun 1959, dan pengajarannya berlangsung selama 4 tahun.
Dasar-dasar pengajarannya adalah sebagai berikut:
1.    Tafsir
2.    Hadits
3.    Bahasa Arab
4.    Bahasa Turki
5.    Filsafat
6.    Sejarah Kebudayaan islam
7.    Ilmu Bumi
8.    Dan lain-lain.[7]

Ulama’-Ulama’ yang Termashur Pada Masa Turki Utsmani
Ulama’-ulama’ yang termashur pada masa Utsmaniyah Turki diantaranya yaitu:
1.  Syeikh Hasan Ali Ahmad As-Syafi’i yang dimasyhurkan dengan Al-Madabighy,Jam’ul Jawami dan syarah Ajrumiyah (wafat tahun 1170 H = 1756M) pengarang Hasiyah.
2.  Ibnu Hajar Al-Haitsami (wafat tahun 975H = 1567M) pengarang Tuhfah.
3.  Syamsuddin Ramali (wafat tahun 1004H = 1959H) pengarang Nihayah.
4.   Muhammad bin Abdur Razak, Murtadla Al-Husainy Az-Zubaidy, pengarang syarah Al-Qamus, bernama Tajul Urus (wafat tahun 1205H = 1790M).
5.  Abdur Rahman Al-Jabarity (wafat tahun 1240H = 1825M), pengarang kitab tarikh Mesir, bernama Ajaibul-Atsar Fit-Tarajim Wal-Akhbar.
6.   Syekh Hasan Al-Kafrawy As-Syafi’i Al-Azhary (wafat tahun 1202H = 1787M)pengarang kitab nahwu Syarah Al-Jurumiyah, barnama Kafrawy.
7.   Syeikh Sulaiman bin Muhamad bin Umar Al-Bijirmy As-Syafi’i (wafat tahun 1212H = 1806M), pengarang syarah-syarah dan hasyiah-hasyiah.
8.   Syeikh Hasan Al-Attar (wafat tahun 1250H = 1834M), ahli ilmu pasti dan ilmu kedokteran.
9.     Syeikh Muhammad bin Ahmad bin Arfah Ad-Dusuqy Al-Maliki (wafat tahun 1230H = 1814M) ahli filsafat dan Imu falak serta ahli ilmu ukur.
10.  Nuruddin Ali Al-Buhairi (wafat tahun 944H = 1537M).
11.  Abdurrahman Al-Manawy (wafat tahun 950 H = 1543M).
12.  Syahabuddin Al-Quliyuby.
13.  Abdul-Baqybin Yusuf Az-Zarqany Al-Maliki(1099H = 1687M).
14.  Syeikh Abdulah Al-Syarqawy (Syeikh Al-Azhar) (wafat tahun 1227H= 1812M).
15.  Syekh Musthafa bin Ahmad As-Shawy (wafat tahun 1216H = 1801 M).
16.  Syeikh Musthafa Ad-Damanhury As-Syafi’I (wafat tahun 1216H = 1801 M).[8]



[1] Razi,Fahrur.2009.Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.Pontianak:STAIN Pontianak Press, hlm.51.
                                                                        
[2] Zuhairini, sejarah pendidikan islam, bumi aksara, jakarta, bulan bintang,1997 cet ke 2 hal 54.
[3] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1989),cet ke.5, h. 164.
[4] Abuddin nata, sejarah pendidikan islam,jakarta: kencana, 2011, hlm. 206.
[5] Mahmud Yunus, Sejarah Pendidikan Islam, (Jakarta: PT. Hidakarya Agung, 1992),cet ke.7, h. 171.
[6] Syamsul munir amin, sejarah peradaban islam, jakarta: amzah, 2009, hlm. 194.
[7] Moh.Nurhakim,Sejarah dan Peradapan Islam, (Malang:UMM Press,2004). Hlm. 135.
[8] Mahmud Yunus, Perbandingan Pendidikan Modern di Negara Islam dan Intisari Pendidikan Barat, (Jakarta: C.v. Al-Hidayah, 1968), h. 124-125.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar