BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Islam diturunkan sebagai rahmatan lil ‘alamin. Untuk
mengenalkan Islam ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki
manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23
tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan.
Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu
orang-orang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu
melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Pendidikan
merupakan kata kunci untuk setiap manusia agar ia mendapatkan ilmu. Hanya
dengan pendidikanlah ilmu akan didapat dan diserap dengan baik. Terutama
apabila kita mengetahui pendidikan yang telah diajarkan oleh Rasulullah saw dan
para sahabatnya.
Untuk mengetahui sejauh mana pendidikan yang diajarkan oleh
Rasulullah SAW, khalafaur rasyidin dan para sahabatnya. Maka di butuhkanya
sejarah pendidikan islam. Karena sejarah pendidikan islam memiliki dua kegunaan
yaitu yang bersifat umum yaitu sebagai factor keteladanan dan bersifat akademis
yaitu memberikan perbendaharaan perkembangan ilmu pengetahuan (teori dan
praktik). Sejarah pendidikan islam
pada hakikatnya tidak terlepas dari sejarah islam. Oleh sebab itu periodisasi
sejarah pendidikan islam dapat dikatakan berada pada periode-periode sejarah
islam itu sendiri. Yang dapat dibagi menjadi tiga periode, yaitu periode
klasik, pertengahan dan modern.[1][1] Kemudian perinciannya dapat dibagi lima periode, yaitu:
Periode Nabi Muhammad SAW (571-632 M), periode Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar,
Umar, Usman, dan Ali di Madinah(632-661 M), periode kekuasaan Daulah Umayyah
(661-750 M), periode kekuasaan Abbasiyah (750-1250 M) dan periode jatuhnya
kekuasaan khalifah di Baghdad (1250-sekarang).
Namun pada Makalah ini penulis hanya membahas sejarah
pendidikan islam pada masa Bani Umayyah. Yang meliputi: Kurikulum pendidikan,
metode pembelajaran, profil pendidik, tempat-tempat berlangsungnya proses
pendidikan, serta kebijakan pemerintah
pada masa itu
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sejarah Pendidikan Islam
Secara etimologi sejarah berasal dari kata syajarotun yang
berarti pohon.[2][2] Dalam bahasa arab disebut dengan tarih, yang menurut bahasa
berarti ketentuan masa. Sedang menurut termonologi berarti keterangan yang
telah terjadi dikalanganya pada masa yang telah lampau atau pada masa yang
masih ada.[3][3] Dalam bahasa inggris sejarah di sebut history, yang mempunyai arti pengalaman masa lampau dari pada umat
manusia (the past experience of mankind). Menurut Ibnu Khaldun, sejarah
didefinisikan sebagai catatan tentang masyarakat umum manusia atau peradaban
manusia yang terjadi pada watak/sifat masyarakat itu. Sedangkan Roeslan
Abdulgani berpendapat Ilmu sejarah adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan
yang meneliti dan menyelidiki secara sistematis keseluruhan perkembangan masyarakat
serta kemanusiaan di masa lampau beserta kejadian-kejadian dengan maksud untuk
kemudian menilai secara kritis seluruh hasil penelitiannya tersebut, untuk
selanjutnya dijadikan perbendaharaan pedoman bagi penilaian dan penentuan
keadaan sekarang serta arah proses masa depan.
Pokok persoalan sejarah senantiasa akan sarat dengan
pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut perkembangan keseluruhan keadaan
masyarakat. Oleh karenanya Sayid Quthub berbicara dalam bukunya “Konsepsi
sejarah Dalam Islam” bahwa sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan
tafsiran peristiwa-peristiwa itu, dan pengertian mengenai hubungan nyata dan
tidak nyata, yang menjalain seluruh bagian serta memberinya dinamisme dalam
waktu dan tempat.[4][4]
Melihat dari beberapa uraian sejarah diatas, maka dapat
dirumuskan bahwa sejarah pendidikan islam yaitu keterangan mengenai pertumbuhan
dan perkembangan islam dari waktu ke waktu, sejak lahirnya agama islam sampai
sekarang. Atau dengan kata lain sejarah pendidikan islam yaitu suatu cabang
ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan
pendidikan islam, baik dari segi ide dan konsepsi maupun segi institusi dan
operasionalisasi mulai dari zaman Nabi Muhammad SAW sampai saat ini yang mampu
menjadikan pelajaran bagi kita di zaman ini.[5][5]
B.
Awal berdirinya Bani Umayyah
Nama Bani Umayyah berasal dari nama “Umayyah Ibn Abdi Syams
Ibnu Abdi Manaf, yaitu salah seorang pemimpin-pemimpin kabilah Quraisy di zaman
Jahiliyah. Dinasti Umayyah didirikan oleh Mu’awiyah bin Aby Sufyan, dan
berkuasa sejak tahun 661 sampai tahun 750 Masehi dengan ibukota Damaskus. Ia juga
mengganti sistem pemerintahan muslim yang semula bersistem musyawarah
(demokrasi) menjadi sistem Monarchy Herdity (Kekuasaan turun-temurun).
Pendirian Bani Umayyah dilakukanya dengan cara menolak Ali
menjadi khalifah, berperang melawan Ali dan melakukan perdamaian (tahkim) dengan pihak Ali yang secara
politik menguntungkan Mu’awiyah. Keberuntungan Muawiyyah berikutnya adalah
keberhasilan pihak Khawarij membunuh khalifah Ali r.a. sehingga jabatan
khalifah setelah Ali dipegang oleh putranya yaitu Hasan ibn Ali selama beberapa
Bulan akan tyetapi karena tidak didukung pasukan yang kuat sedangkan pihak
Muawiyah semakin kuat akhirnya dia melakukan perjanjian dengan Hasan ibn Ali,
isi perjanjian itu adalah bahwa pergantian pemimpin akan di serahkan kepada
umat islam setelah masa kepemimpinan Muawiyah berakhir. Perjanjian ini dibuat
pada tahun 661 M (41 H.) dan tahun ini disebut ‘am jamaat, karena perjanjian ini mempersatukan umat islam menjadi
satu kepemimpinan politik yaitu kepemimpinan muawiyyah.[6][6]
Dinasti Umayyah dibedakan menjadi dua: pertama, Dinasti umayyah yang dirintis oleh Muawiyah Bin Abi Sufyan
(661-680M) yang berpusat di Damaskus (Syiria). Fase ini berlangsung sekitar
satu abad yang mengubah system
pemerintahan dari khilafah menjadi monarki (mamlakat).
Kedua, Dinasti Umayah di Andalusia,
yang awalnya merupakan wilayah taklukan Umayyah yang di pimpin seorang gubernur
pada zaman Walid Bin Abdul Malik (86-96 H/705-715 M) yang kemudian menjadi kerajaan.[7][7]
C.
Pendidikan Islam pada masa Bani Umayyah
Secara esensial, Pendidikan islam pada masa ini hampir sama
dengan pendidikan pada periode Khulafaur rasyidin. Namun pada masa bani umayyah
ini pendidikan islam lebih mengalami perkembangan yang cukup signifikan,
diantaranya dapat di uraikan pada pembahasan berikut:
1.
Kurikulum Pendidikan Islam pada masa
Bani Umayyah
Pada masa dinasti Umayyah pola pendidikan bersifat desentrasi. Desentrasi artinya
pendidikan tidak hanya terpusat di ibu kota Negara saja tetapi sudah
dikembangkan secara otonom di daerah yang telah dikuasai seiring dengan
ekspansi teritorial.[8][8] Pada masa bani
Umayyah, pakar pendidikan Islam menggunakan kata Al-Maddah untuk pengertian
kurikulum. Karena pada masa itu kurikulum lebih identik dengan serangkaian mata
pelajaran yang harus diberikan pada murid dalam tingkat tertentu.
Sejalan dengan perjalanan waktu pengertian kurikulum mulai
berkembang dan cakupannya lebih luas, yaitu mencakup segala aspek yang
mempengaruhi pribadi siswa. Kurikulum dalam pengertian yang modern ini mencakup
tujuan, mata pelajaran, proses belajar dan mengajar serta evaluasi. Berikut ini
adalah macam-macam kurikulum yang berkembang pada masa bani Umayyah:
a.
Kurikulum Pendidikan Rendah
Terdapat kesukaran ketika ingin membatasi mata
pelajaran-mata pelajaran yang membentuk kurikulum untuk semua tingkat
pendidikan yang bermacam-macam. Pertama,
karena tidak adanya kurikulum yang terbatas, baik untuk tingkat rendah maupun
untuk tingkat penghabisan, kecuali Alquran yang terdapat pada kurikulum. Kedua, kesukaran diantara membedakan
fase-fase pendidikan dan lamanya belajar karena tidak ada masa tertentu yang
mengikat murid-murid untuk belajar pada setiap lembaga pendidikan. Sebelum
berdirinya madrasah, tidak ada tingkatan dalam pendidikan Islam, tetapi tidak hanya
satu tingkat yang bermula di kuttab dan berakhir di diskusi halaqah. Tidak ada
kurikulum khusus yang diikuti oleh seluruh umat Islam. Dilembaga kuttab
biasanya diajarkan membaca dan menulis disamping Alquran. Kadang diajarkan
bahasa, nahwu, dan arudh.[9][9]
b.
Kurikulum Pendidikan Tinggi
Kurikulum pendidikan tinggi (halaqah) bervariasi tergantung
pada syaikh yang mau mengajar. Para mahasiswa tidak terikat untuk mempelajari
mata pelajaran tertentu, demikian juga guru tidak mewajibkan kepada mahasiswa untuk
mengikuti kurikulum tertentu. Mahasiswa bebas untuk mengikuti pelajaran di
sebuah halaqah dan berpindah dari sebuah halaqah ke halaqah yang lain, bahkan
dari satu kota ke kota lain. Menurut Rahman, pendidikan jenis ini disebut
pendidikan orang dewasa karena diberikan kepada orang banyak yang tujuan
utamanya adalah untuk mengajarkan mereka mengenai Alquran dan agama.[10][10] Kurikulum pendidikan
tingkat ini dibagi kepada dua jurusan, jurusan ilmu-ilmu agama (al-ulum
al-naqliyah) dan jurusan ilmu pengetahuan (al-ulum al-aqliyah).
2.
Metode-metode pendidikan islam pada
masa Bani Umayyah
Pendidikan Islam di masa Dinasti Umayah tampaknya masih
didominasi oleh metode bayani, terutama selama abad I H di mana pendidikan
bertumpu dan bersumber pada nash-nash agama yang kala itu terdiri atas Alquran,
sunnah, ijmak, dan fatwa sahabat. Metode bayani dalam pendidikan Islam kala itu
lebih bersifat eksplanatif, yaitu sekedar menjelaskan ajaran-ajaran agama saja.
Secara khusus, metode ceramah dan demonstrasilah yang banyak digunakan dalam
institusi-institusi pendidikan yang ada di zaman itu Baru pada masa-masa akhir
pemerintahan Umayah metode burhani[11][11] mulai berkembang di
dunia Islam, seiring dengan giatnya penerjemahan karya-karya filsafat Yunani ke
dalam bahasa Arab.
3.
Lembaga pendidikan islam pada masa Bani
Umayyah
Lembaga pendidikan Islam dimasa ini diklasifikasikan atas
dasar muatan kurikulum yang diajarkan. Dalam hal ini, kurikulumnya meliputi
pengetahuan agama (Lembaga pendidikan formal)
dan pengetahuan umum (non formal). Adapun lembaga pendidikan Islam yang
ada sebelum kebangkitan madrasah pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
a.
Shuffah, adalah suatu tempat yang telah dipakai untuk aktivitas pendidikan.
Biasanya tempat ini menyediakan tempat pemondokan bagi pendatang baru dan
mereka tergolong miskin. Disini para siswa diajarkan membaca dan menghafal
Alquran secara benar dan hukum Islam dibawah bimbingan langsung dari nabi. Pada
masa ini setidaknya telah ada sembilan shuffah yang tersebar dikota Madinah.
Dalam perkembangan berikutnya, sekolah shuffah juga menawarkan pelajaran
dasar-dasar berhitung, kedokteran, astronomi, geneologi, dan ilmu fonetik.
b.
Kuttab/Maktab,adalah Lembaga pendidikan Islam tingkat dasar yang
mengajarkan membaca dan menulis kemudian meningkat pada pengajaran Alquran dan
pengetahuan agama tingkat dasar.
c.
Halaqah
artinya lingkaran. Artinya, proses
belajar mengajar di sini dilaksanakan di mana murid-murid melingkari gurunya.
Seorang guru biasanya duduk dilantai menerangkan, membacakan karangannya, atau
memberikan komentar atas karya pemikiran orang lain. Kegiatan halaqah ini bisa
terjadi di masjid atau di rumah-rumah. Kegiatan halaqah ini tidak khusus untuk
mengajarkan atau mendiskusikan ilmu agama, tetapi juga ilmu pengetahuan umum,
termasuk filsafat.
d.
Majlis,
yang berarti sesi dimana aktivitas
pengajaran atau diskusi berlangsung. Ada beberapa macam majlis seperti; Majlis al-Hadits, majlis ini
diselenggarakan oleh ulama/guru yang ahli dalam bidang hadits. Majlis al-Tadris, majlis ini biasanya
menunjuk majlis selain dari pada hadist, seperti majlis fiqih, majlis nahwu,
atau majlis kalam. Majlis al-Syu’ara,
majlis ini adalah lembaga untuk belajar syair, dan sering dipakai untuk kontes
para ahli syair. Majlis al-Adab,
majlis ini adalah tempat untuk membahas masalah adab yang meliputi puisi,
silsilah, dan laporan bersejarah bagi orang-orang yang terkenal. Majlis al-Fatwa dan al-Nazar, majlis ini merupakan sarana pertemuan untuk mencari
keputusan suatu masalah dibidang hokum kemudian difatwakan.
e.
Masjid, Semenjak berdirinya pada masa Nabi Muhammad Saw, masjid
telah menjadi pusat kegiatan dan informasi berbagai masalah kaum Muslimin, baik
yang menyangkut pendidikan maupun sosial ekonomi.
f.
Khan,
berfungsi sebagai asrama untuk
murid-murid dari luar kota yang hendak belajar hukum Islam pada suatu masjid,
seperti khan yang dibangun oleh Di’lij ibn Ahmad ibn Di’lij di Suwaiqat Ghalib
dekat makam Suraij. Disamping fungsi itu, khan juga digunakan sebagai sarana
untuk belajar privat.
g. Badi’ah, Secara
harfiah badiah artinya dusun Badui di padang sahara yang di dalam
terdapat padang sahara yang didalam terdapat bahasa Arab yang masih fasih dan
murni sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Lembaga Pendidikan ini muncul
seiring dengan kebijakan pemerintahan Bani Umayyah untuk melakukan program
Arabisasi yang digagas oleh khalifah Abdul Malik Ibn Marwan. Akibat dari
Arabisasi ini maka muncullah ilmu qawaid dan cabang ilmu lainnya
mempelajari bahasa Arab. Melaui pendidikan di Badiah ini,maka bahasa
Arab dapat sampai ke Irak, Syiria, Mesir, Lebanon, Tunisia, Al-Jazair, Maroko,
di samping Saudi Arabia, Yaman, Emirat Arab,dan sekitarnya. Dengan demikian
banyak para penguasa yang mengirim anaknya untuk belajar bahasa Arab ke Badiah.
Sedangkan Madrasah-madrasah yang
ada pada masa Bani Umayyah adalah sebagai berikut:
a.
Madrasah Mekkah: Guru pertama yang mengajar di Makkah, sesudah
penduduk Mekkah takluk, ialah Mu’az bin Jabal. Ialah yang mengajarkan Al Qur’an
dan mana yang halal dan haram dalam Islam.
b. Madrasah Madinah: Madrasah Madinah lebih termasyur dan lebih dalam ilmunya, karena di
sanalah tempat tinggal sahabat-sahabat nabi. Berarti disana banyak terdapat
ulama-ulama terkemuka.
c. Madrasah Basrah: Ulama sahabat yang termasyur di Basrah ialah Abu Musa Al-asy’ari dan
Anas bin Malik. Abu Musa Al-Asy’ari adalah ahli fiqih dan ahli hadist, serta
ahli Al Qur’an. Sedangkan Abas bin Malik termasyhur dalam ilmu hadis.
d. Madrasah Kufah: Madrasah Ibnu Mas’ud di Kufah
melahirkan enam orang ulama besar, yaitu: ‘Alqamah, Al-Aswad, Masroq, ‘Ubaidah,
Al-Haris bin Qais dan ‘Amr bin Syurahbil.
e. Madrasah Damsyik (Syam): Setelah negeri Syam (Syria) menjadi sebagian negara Islam dan
penduduknya banyak memeluk agama Islam. Maka negeri Syam menjadi perhatian para
Khilafah. Madrasah itu melahirkan imam penduduk Syam, yaitu Abdurrahman
Al-Auza’iy yang sederajat ilmunya dengan Imam Malik dan Abu-Hanafiah.
f.
Madrasah Fistat (Mesir): Setelah Mesir menjadi negara
Islam ia menjadi pusat ilmu-ilmu agama. Ulama yang mula-mula madrasah madrasah
di Mesir ialah Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘As, yaitu di Fisfat (Mesir lama).
4.
Profil guru pada masa Bani Umayyah
Guru pada masa bani Umayyah memegang peranan yang penting
dalam proses pendidikan anak, mulai dari menentukan perencanaan sampai
melaksanakannya. Oleh sebab itu, tidak mengherankan apabila pada masa ini
disebut dengan teacher oriented. Selain
itu, guru pada masa ini secara teratur sudah melaksanakan tugas dan memberikan
secara sungguh-sungguh dan memperlakukan murid secara adil tanpa ada
diskriminasi. Guru-guru yang mengajar sekolah kanak-kanak (mu’allim al-kuttab)
diantaranya: Al-Hajaja, Al-Kumait, Abdil hamid Al-Katib, Atha bin Rabah dan
lain-lain. Para guru yang memberikan pelajaran di masjid-masjid antara lain:
Abul Aswad Ad-Duali, Hasan Al-Basri, Abu Wadaah, Syuraik Al-Qadhi, Muhamad ibn
Al-Hasan, Ahmad ibnu Abi Dawud, dan lain sebagainya.
Ulama-ulama tabi’in ahli tafsir, pada masa bani Umayyah
yaitu: Mujahid, ‘Athak bin Abu Rabah, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Masruq bin
Al-Ajda. Ulama-ulama ahli Fiqh: Ulama-ulama tabi’in Fiqih diantaranya adalah:,
Syuriah bin Al-Harits, ‘alqamah bin Qais, Al-Aswad bin Yazid dan lain
sebagainya.
5.
Kebijakan
pemerintah pada masa Bani Umayyah
Para penguasa dan pemimpin Muslim
memiliki perhatian yang besar terhadap ilmu pengetahuan sejak masa khulafaur
Rasyidin. Mereka mendirikan dan menghidupi berbagai sarana penunjang ilmu
pengetahuan dan pendidikan, termasuk lembaga-lembaganya. As-Suffah yang menjadi
model pendidikan Islam ketika nabi berada di Madinah tersebar keluar madinah tersebar
luas keluar madinah sejalan dengan persebaran masjid. Di
daerah-daerah baru pada masa bani Umayyah dimana bahasa Arab bukan bahasa
pertama dan Alquran belm dikenal, pembangunan lembaga pendidikan Islam, seperti
kuttab dan masjid menjadi tujuan utama para khalifah dan gubernur, sehingga
biaya pembangunan ditanggung pemerintah.
Banyak sekali dana yang dialokasikan untuk mendirikan dan memelihara
sekolah-sekolah ini dengan cara memberikan beasiswa yang besar kepada murid
yang berhak menerimanya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dinasti daulah Bani Umayyah berkuasa cukup lama
selama kurang lebih 91 tahun lamanya. Kebijakan dan perubahan yang dilakukan oleh para khalifah
tersebut menjadi pelajaran penting bagi pemimpi-pemimpin Islam saat ini. Bani Umayyah dalam pengembangan pola pendidikan Islam memang masih sama
dengan periode sebelumnya tetapi sudah ada reformasi yang dilakukan baik dari
segi kurikulumnya maupun tata cara yang dilakukan oleh para pendidiknya. Salah
satu kemajuan yang pendidikan selama pemerintahan Bani Umayyah yakni
pengembangan kurikulum pengajaran dan pendidiknya meskipun hal-hal tersebut
belum terlalu formal seperti saat sekarang ini. Pembangunan sarana prasarana
pendidikan baik pendidikan di khutab,ruang sastra dan bahasa, perpustakaan
serta rumah sakit untuk praktik bagi calon dokter sudah tersedia pada saat itu. Kemajuan pengetahuan dan pembaharuan sistem pendidikan pada zaman Daulah
Bani Umayah sudah terlihat. Karena Pemerintah Bani Umayyah menaruh perhatian yang sangat dalam bidang
pendidikan. Memberikan dorongan yang kuat terhadap dunia pendidikan dengan
penyediaan sarana dan prasarana. Hal ini dilakukan agar para ilmuan, para
seniman, dan para ulama mau melakukan pengembangan bidang ilmu yang dikuasainya
serta mampu melakukan kaderisasi ilmu.
B.
Saran
Dengan mengetahui sejarah pendidikan pada masa Bani Umayyah
ini diharapkan kita yang notabenenya sebagai mahasiswa ataupun calon pendidik,
mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari sejarah pendidikan ini. Sehingga kita
bisa mengaplikasikan dan mengembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan yang
kita bina nantinya.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini banyak
kekurangan dan kesalahan. maka dari itu kami meminta kritik dan saran dari para
pembaca sekalian.
DAFTAR PUSTAKA
Dra. Zuhairini dkk, 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Mubarok, Jaih. 2004. Sejarah
Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Bani Quraisy.
Langgulung, Hasan. 1992.
Asas-asas Pendidikan Islam,
Jakarta: Pustaka Al-Husna.
Rahman, Fazrul. 1994.
Islam, Bandung: Penerbit
Pustaka,.
http://id.wikipedia.org
[1][1] Dr. Harun Nasution, Pembaharuan Dalam Islam: Sejarah Pemikiran
dan Gerakan, Bulan Bintang, Jakarta,1975, hal. 11
[2][2] wikipedia.org
[3][3] Dra. Zuhairini dkk, Sejarah pendidikan islam, ,(Jakarta:
Bumi Aksara, 2010), hal. 1
[6][6] Dr. Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung:
Pustaka Bani Quraisy, 2004.) Hal. 96
[8][8] http://karyaulama.blogspot.com
[9][9] Hasan Langgulung, Asas-asas Pendidikan Islam, Jakarta:
Pustaka Al-Husna, 1992, hlm. 113.
[10][10] Fazlur Rahman, Islam, Bandung: Penerbit Pustaka, 1994, hlm. 264.
[11][11] Metode Burhan adalah suatu metode
yang diperoleh dari indera, percobaan dan hukum - hukum logika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar