A.
Sejarah Munculnya Kaligrafi Arab
Ungkapan Kaligrafi berasal dari kata latin “Kalios”
yang berarti indah, dan kata “graph” yang berarti tulisan atau aksara.
Arti seutuhnya dari kaligrafi adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk
huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara penerapannya menjadi sebuah tulisan
yang tersusun. Kaligrafi merupakan seni arsitektur rohani, yang dalam proses
penciptaannya melalui alat jasmani. Kaligrafi atau khath,
dilukiskan sebagai kecantikan rasa, penasehat pikiran, senjata pengetahuan,
penyimpan rahasia dan berbagai masalah kehidupan.[1]
Ada beberapa teori tentang awal mula Sejarah
munculnya kaligrafi, diantaranya sebagai berikut:
1.
Teori Taufiqi
Munculnya teori ini bersumber dari penafsiran terhadap sumber-sumber
islam yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Teori ini mengungkapkan bahwa bahasa Arab
adalah pemberian dari Allah SWT (Taufiqi) kepada Nabi Adam A.S dan Nabi-nabi
lainnya.[2]
Menurut
Muhamad Ibn Yahya As-Suli dalam kitabnya Adab al-Kitab, ia mengambil
riwayat dari Ka’ab bin al-Akhbar, Ibnu Abbas dan Ibnu Faris bahwa yang mebuat
tulisan Arab, Suryani dan jenis tulisan lainnya adalah Nabi Adam As. ia
menulisnya diatas tanah dan memahatnya. Ketika bumi tenggelam karena banjir
Di dalam al-Qur’an, dalil yang digunakan adalah pada Q.S. al-‘Alaq ayat 1-5
dan Q.S. al-Qalam ayat 1. Di dalam kedua surat tersebut disebutkan
kata-kata iqra’ (bacalah)
dan al-qalam (pena), yang
menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan menulis adalah pemberian dari Allah
SWT.[3]
2.
Teori Selatan
Menurut teori ini, bahasa Arab bersumber dari masyarakat Himyar
di wilayah Yaman, sebelah selatan Jazirah Arab.
Bahasa ini berkembang seiring dengan luasnya wilayah negeri Saba’ dan Himyar.
Namun tidak ada bukti fisik yang dijadikan rujukan, tetapi statemen para pelaku sejarah yang
ditulis oleh para pakar Islam. Misalnya oleh al-Qalqasyandi: Dikatakan di hadapan
Abu Sufyan bin Umayyah, paman Abu Sufyan bin Harb,
awal munculnya tulisan adalah dari Yaman.[4]
Ibnu
Khaldun memperkuat pendapat teori ini dalam Muqaddimah, bahwa khat Arab
yang pertama dikenal adalah khat Himyari dan kemudian tersebar ke Hirah, Tha’if
dan Quraisy.[5]
3.
Teori Utara
Teori
ini juga
menganggap bahwa tulisan
Arab bukan semata- mata pemberian langsung dari Allah swt., tetapi proses perkembangan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Teori ini disebut juga dengan teori Hirah. Teori ini didukung
oleh data-data fisik yang berupa batu ukiran
dengan tulisan model Nabati.
Teori ini didasarkan atas riwayat Ibn Abbas bin Hisyam tentang cerita al-Balazari
mengenai tiga orang dari kaum Thay’ di Baqqah, Maramir bin Murrah,
Aslam bin Sadrah, dan’Amir bin Jadrah. Mereka mengukir huruf hijaiyah dengan
model tulisan Suryani, Balok dan Latin.[6]
4. Teori Baru
Teori ini banyak digunakan oleh kalangan peneliti. Menurut teori ini,
tulisan Arab berasal dari al-Anbat (Nabatea). Mereka adalah masyarakat
Arab yang berada dibawah pengaruh peradaban dan budaya Aramic. Dimana
bahasa yang digunakan adalah perpaduan antara bahasa Arab dan bahasa Aram.
Pusat pemerintahannya berada di Batrah. Oleh karena itu tulisannya
disebut tulisan Aram.[7]
B. Perkembangan Kaligrafi
1. Pada Masa Pra Islam
Pada
masa pra-Islam, pengembangan tulisan mulai dari model tulisan sederhana hingga
sampai pada model simbolis. Berikut adalah masa perkembangannya:
I.
Masa tulisan gambar
Pada masa ini, tulisan berupa gambar yang disadur dari
alam dan memiliki arti sesuai dengan gambar tersebut.
Misalnya: gambar
batu, artinya memang batu. Tidak ada arti lain yang lebih luas atau berbeda dari gambarnya.
II.
Masa tulisan simbol arti
Pada masa ini, tulisan adalah berupa gambar yang disadur dari alam, tetapi gambar tersebut memiliki arti yang lebih luas dan berbeda
dari gambar semestinya. Misalnya: gambar matahari
sebagai
lambing siang
hari atau
terang. Akan tetapi gambar tersebut
bukan berupa lambang bunyi yang dijadikan sebagai alat komuniasi verbal.
2. Masa Rasulullah SAW dan Khulafa’
al-Rasyidin.
Pada masa Rasulullah saw, masyarakat Arab sudah
memiliki tulisan
sendiri meskipun
masih sangat sederhana, yakni dengan model Kufi klasik yang tidak memiliki penanda vokal (syakal) dan pembeda konsonan (jumlah dan posisi titik pada
huruf yang sama). Selain itu,
masih
belum
di kenal penanda kalimat yang berupa titik, koma,
ataupun hiasan
tulisan.
Berikut ini adalah contoh tulisan Arab
di masa Rasulullah saw yang
ditulis oleh sahabat Rasulullah saw Al-‘A’la al-Hadrami dalam bentuk surat resmi kepada Mundzir bin Sawi seorang raja di daerah
Bahrain yang berisiskan ajakan untuk memeluk Islam:[8]

Transliterasi dalam bentuk tulisan Arab:
بسم الله
الرحمن الرحيم من رسول الله إلى
المنذر بن
ساوي سلام عليك فإني أحمد الله
إليك الذي لا
إله غيره وأشهد أن لا إله إلا
الله وأن
محمدا عبده ورسوله أما بعد فإني أذكر
ك الله عز
وجل فإنه ينصح فإنما ينصح لنفسه وإنه من يطع
رسلي قد أثنو
عليك بخير الله وقد شفعتك في
قومك فاترك
للمسلمين ما أسلمو عليه وعفوت عن أهل
الذنوب فاقبل
منهم وإنك مهما تصلح فإن نعزلك عن عملك ومن
ما مر من
يهوديته أو مجوسيته فعليه الجزية.
3. Pada Masa Periode Bani Umayyah
Pada
Masa ini mulai muncul “Nuqthah” atau titik dalam huruf untuk membedakan
satu huruf dengan yang lainnya. Dan “Syakal” atau baris untuk
mempermudah pelafalan bunyi konsonan huruf.[9]
Pada
masa ini telah muncul gaya-gaya penulisan khat diantaranya mudawwar (bundar),
mutsallats (segitiga), dan ti’im (kembar). dari tiga gaya
tersebut muncul berbagai variasi tulisan seperti mail (miring), Masyq
(membesar), Naskh (inskriptif), dan Khufi. Dari beberapa
variasi tersebut Naskh dan Khufi adalah model variasi yang paling
banyak diminati dan berkembang menjadi menjadi model-model lain.
Diantara
kaligrafer Bani Umayyah yang paling termashyur
mengembangkan tulisan kursif adalah Qutbah al-Muharrir. Ia menemukan empat
tulisan yaitu Thumar, Jalil, Nisf danTsuluts. Keempat tulisan ini
saling melengkapi antara satu gaya dengan gaya lain sehingga menjadi lebih
sempurna. Tulisan Thumar yang berciri tegak lurus ditulis dengan pena besar
pada tumar-tumar (lembaran penuh, gulungan kulit atau kertas) yang
tidak terpotong. Tulisan ini digunakan untuk komunikasi tertulis para khalifah
kepada amir-amir dan penulisan dokumen resmi istana. Sedangkan tulisan Jalil yang berciri miring
digunakan oleh masyarakat luas.
4.
Pada
Masa Periode Bani Abbasiyyah
Gaya
dan teknik menulis kaligrafi semakin berkembang terlebih pada periode ini
semakin banyak kaligrafer yang lahir, diantaranya Ad-Dahhak
ibn 'Ajlan yang
hidup pada masa Khalifah Abu Abbas As-Shaffah (750-754 M) dan Ishaq
ibn Muhammad pada
masa Khalifah al-Manshur (754-775) dan al-Mahdi (775-786). Ishaq memberikan
kontribusi yang besar bagi pengembangan tulisan Tsuluts dan Tsulutsain dan mempopulerkan
pemakaiannya.
Adapun
kaligrafer periode Bani
Abbasiyah yang
tercatat sebagai nama besar adalah Ibnu Muqlah. Ibnu Muqlah berjasa besar
bagi pengembangan tulisan kursif karena penemuannya yang spektakuler tentang
rumus-rumus geometrikal pada kaligrafi yang terdiri dari tiga unsur kesatuan
baku dalam pembuatan huruf yang ia tawarkan yaitu: titik, huruf
alif, dan lingkaran. Menurutnya setiap huruf
harus dibuat berdasarkan ketentuan ini dan disebut al-Khat
al-Mansub (tulisan
yang berstandar). Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (al-Aqlam
as-Sittah) yaitu Tsuluts,
Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa' dan Tauqi' . Tulisan Naskhi dan Tsuluts menjadi populer
dipakai karena usaha Ibnu Muqlah yang akhirnya bisa menggeser dominasi khat Kufi.
Selain
Ibnu Muqlah, Khalid bin Abi Hiyaj adalah salah satu kaligrafer yang
terkenal pada masa ini. Ia berjasa dalam penulisan mushaf pada masa permulaaan.[10]
5. Perkembangan Kaligrafi di Indonesia
Di Indonesia, kaligrafi merupakan
bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan, bahkan ia menandai
masuknya Islam di Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan karena
berdasarkan hasil penelitian tentang data arkeologi kaligrafi Islam yang
dilakukan oleh Prof. Dr.
Hasan Muarif Ambary,
kaligrafi gaya kufi telah berkembang pada abad ke-11, datanya ditemukan pada
batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 495 H/ 1082 M) dan
beberapa makam lainnya dari abad-abad ke-15. Bahkan diakui pula sejak
kedatangannya ke Asia Tenggara dan Nusantara, disamping dipakai untuk penulisan
batu nisan [ada makam-makam, huruf arab tersebut (baca: kaligrafi) memang juga
banyak dipakai untuk tulisan-tulisan materi pelajaran, catatan pribadi,
undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, dalam mata uang
logam, stempel, kepala surat dan sebagainya. Huruf Arab yang dipakai dalam
bahasa setempat tersebut diistilahkan dengan huruf Arab
Melayu, Arab Jawa atau Arab
Pegon.
Pada abad XVIII-XX, kaligrafi
beralih menjadi kegiatan kreasi seniman Indonesia yang diwujudkan dalam aneka
media seperti kayu, kertas, logam, kaca dan media lainnya. Termasuk juga untuk
penulisan mushaf-mushaf al-Qur'an tua dengan bahan kertas deluangdan kertas
murni yang diimpor. Kebiasaan menulis al-Qur'an telah banyak dirintis oleh para
ulama besar di pesantren-pesantren smenjak abad ke-16, meskipun tidak semua
ulama dan santri yang piawai menulis kaligrafi dengan indah dan benar. Amat
sulit mencari seorang khattat yang ditokohkan di penghujung abad
ke-19 atau awal abad ke-20, karena tidak ada guru kaligrafi yang mumpuni dan
tersedianya buku-buku pelajaran yang memuat kaidah penulisan kaligrafi. Buku
pelajaran tentang kaligrafi pertama kali baru keluar sekitar 1961 karangan Muhammad
Abdur Muhili berjudul "Tulisan Indah" serta karangan Drs. Abdul
Karim Husein berjudul "Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf
Arab" tahun
1971.
Pada
tahun 1985, KH. Didin Sirajuddin AR mendirikan LEMKA (Lembaga Kaligrafi dan
Al-Qur’an). Lembaga ini pertama muncul di kawasan ciputat sekitar Universitas
Islam Indonesia dan kini berpusat di kelurahan Kramat Kota Sukabumi.[11]
DAFTAR PUSTAKA:
Didin Sirojuddin, Seni Kaligrafi Islam, Cet. I (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2000)
Ibnu Khaldun, Muqaddimah,. (Beirut: Darul Kitab al-Lubnani, 1979).
Salih Ibrahim al-Hasan, Al-Kitabah al-Arabiyyah min an-Nuqusy Ila
kitab al-Makhtuht, (Riyadh: Darul Fayshal ats-Tsaqafy, 2003)
Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah
al-Arabiyyah, (t.t: Darul Gharb al-Islami, 1994)
http://ponpes-lemka.blogspot.com/2008/10/home.html
[1]
Didin Sirojuddin, Seni
Kaligrafi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000) hlm. 3-5
[2]
Yahya Wahib
al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, (Darul
Gharb al-Islami, 1994) hlm. 18
[3]
Salih Ibrahim
al-Hasan, Al-Kitabah al-Arabiyyah min an-Nuqusy Ila kitab al-Makhtuht, (Riyadh:
Darul Fayshal ats-Tsaqafy, 2003) hlm. 18
[4]
Yahya Wahib
al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 18-19
[5]
Ibnu Khaldun, Muqaddimah,.
(Beirut: Darul Kitab al-Lubnani, 1979) hlm. 746
[6] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath
wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 21
[7]
Yahya Wahib
al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 21
[8] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath
wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 64
[9]
Yahya Wahib
al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 83
[10]
Yahya Wahib
al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 113
[11]
Materi diakses dari:
http://ponpes-lemka.blogspot.com/2008/10/home.html
TERIMA KASIH
BalasHapusTerimakasih..
BalasHapus