Otomatis Muhammadiyah

Sabtu, 06 Desember 2014

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU ANTROPOLOGI


BAB I
PENDAHULUAN
            Antropologi ialah ilmu yang membahas tentang manusia sebagai makhluk yang bermasyarakat dan tidak bisa hidup sendiri. Penulis memilih judul “Sejarah dan Perkembangan Ilmu Antropologi” karena ilmu ini sangat penting bagi kita sebagai manusia ciptaan Allah SWT. Ilmu ini juga sangat terkait dengan pendidikan terutama pendidikan Islam.
            Oleh karena itu, dalam makalah ini akan membahas tentang pengertian antropologi, sejarah dan perkembangan ilmu antropologi, dan rekontruksi pendidikan Islam. Pendidikan Islam yang telah semakin lama seakan-akan hilang karena pengaruh dari dunia barat, maka harus direkontruksi agar pendidikan Islam ini terlaksana dengan baik sesuai dengan ajaran agama Islam.

BACA SELENGKAPNYA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU FILSAFAT

Disamping mengembangkan ilmu ilmu agama, seperti Tafsir, Fiqih, dan Ilmu Kalam, umat Islam sebagaimana terlihat dalam sejarah,juga mengembangkan ilmu filsafat. Melalui kajian filsafat ini, berbagai masalah yang bersifat gagasan ,pemikiran renungan secara mendalam tentang berbagai hal yang terdapat dalam kehidupan ini dapat ditemukan. Melalui filsafat ini umat islam disamping dapat melaksanakan ajaran yang bersifat formal , ritual dan lahiriah, juga dapat menangkap pesan-pesan spiritual dan moralitas yang terkandung didalamnya. Dengan cara demikian , umat islam tidak akan terjebak kepada hal-hal yang bersifat ritualistik,,lahiriyah, kosong tanpa makna, melainkan juga yang bersifat bathiniyah dan penuh makna.

BACA SELENGKAPNYA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU HADITS


Membicarakan sejarah pertumbuhan dan perkembangan hadis yang bertujuan untuk mengangkat fakta dan peristiwa yang terjadi pada masa Rasulullahullah s.a.w. Kemudian secara periodik pada masa-masa sahabat dan tabi’in serta masa-masa berikutnya, merupakan hal penting yang perlu diketahui oleh umat Islam. Hal ini dikarenakan bahwa al-Hadits menempati posisi kedua setelah al-Qur`an sebagai sumber hokum Islam

BACA SELENGKAPNYA

SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN


A.     LATAR BELAKANG
Mengkaji tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, agaknya dalam hal ini terlalu berat dan memerlukan adanya tenaga serta pikiran yang ekstra. Hal ini dikarenakan cakupan pembahasan ilmu pengetahuan amatlah luas dan spasio temporal yang panjang. Idealnya sejarah adalah rekam jejak tentang semua rentetan peristiwa yang telah terjadi, yang berfungsi sebagai pengungkap segala sesuatu sesuai dengan fakta yang ada tanpa adanya distorsi sedikitpun, namun dalam kenyataannya ia hanya mengungkap sebagian rentetan peristiwa tersebut dan tidak bisa lepas sepenuhnya dari rekayasa yang biasanya dilakukan oleh penguasa politik. Realitas problemik semacam ini pernah terjadi, hal ini tidak bisa dianggap sebagai persoalan remeh bahkan harus diluruskan, karena menyangkut dan memengaruhi khazanah keilmuan generasi selanjutnya sebagai aktor sejarah berikutnya. Apalagi sejarah yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah sejarah atau periodisasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan yang merupakan faktor penting dalam kehidupan manusia. Untuk itu, perlu adanya upaya yang sungguh-sungguh serta tanggung jawab moral dan akademik dalam pemaparan sejarah.
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara tiba-tiba, melainkan melalui proses bertahap dan evolutif. Karenanya, untuk memahami sejarah perkembangan ilmu pengetahuan harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik. Dalam setiap periode sejarah pekembangan ilmu pengetahuan menampilkan ciri khas tertentu. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani. Hal ini didukung oleh beberapa faktor, antara lain: mitologi bangsa Yunani, kesusastraan Yunani, dan pengaruh ilmu pengetahuan pada waktu itu yang sudah sampai di Timur Kuno. Terjadi perkembangan ilmu pengetahuan di setiap periode dikarenakan pola pikir manusia yang mengalami perubahan dari mitos-mitos menjadi lebih rasionil. Manusia menjadi lebih proaktif dan kreatif menjadikan alam sebagai objek penelitian dan pengkajian. Oleh Karena itu, dalam makalah singkat ini, penulis hanya memaparkan tentang sejarah dan perkembangan ilmu pengetahuan, yang hal ini merupakan sebatas akumulasi pengetahuan yang dipahami oleh penulis dan tidak menutup kemungkinan adanya khilaf dan keterbatasan literatur yang dipakai dalam menuliskan sekelumit makalah singkat ini.
SEJARAH PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN.
Terlepas dari adanya pelbagai perbedaan para ahli dalam mendefinisikan term sejarah, penulis lebih sependapat dengan apa yang ditulis oleh Mohammad Amien Rais, bahwa sejarah adalah kontinuitas antara masa lampau, masa sekarang dan masa depan. Dalam menela’ah sejarah, hal ini dapat dilihat dari segi kronologis dan geografis, yang bisa dilihat dengan kurun waktu dimana sejarah itu terjadi. Dalam setiap periode sejarah pekembangan ilmu pengetahuan memiliki ciri khas atau karakteristik tertentu. Tetapi dalam pembagian periodisasi perkembangan ilmu pengetahuan ada perbedaan dalam jumlahnya dalam berbagai literatur [sepanjang penulis ketahui. Maka dari itu, untuk memahami sejarah perkembangan ilmu pengetahuan secara mudah, disini telah dilakukan elaborasi dan klasifikasi atau pembagian secara garis besar. Berikut adalah uraian singkat dari masing-masing periode atau sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dari masa ke masa.
1.      Zaman Pra Yunani Kuno (Zaman Purba)
Pada era ini, secara umum terbagi menjadi tiga fase, yaitu:
a. Zaman Batu Tua
Zaman batu tua disebut juga masa prasejarah.[1] Era ini berlangsung sekitar empat juta tahun SM (sebelum Masehi) sampai 20.000 atau 10.000 tahun SM.[2] Pada zaman ini telah mempunyai beberapa ciri khas, di antaranya adalah menggunakan alat-alat sederhana yang dibuat dari batu dan tulang, mengenal cocok taman dan beternak, dan dalam kehidupan sehari-hari didasari dengan pengamatan primitif menggunakan sistem trial and error (mencoba-coba dan salah) kemudian bisa berkembang menjadi know how.
b. Zaman Batu Muda
Era ini berlangsung tahun 10.000 SM sampai 2.000 SM atau abad 100 sampai 20 SM. Di zaman ini telah berkembang kemampuan-kemampuan yang sangat signifikan. Kemampuan itu berupa tulisan (dengan gambar dan symbol), kemampuan membaca (bermula dari bunyi atau suku kata tertentu), dan kemampuan menghitung.
c. Zaman Logam.
Zaman ini berlangsung dari abad 20 SM sampai abad 6 SM. Pada zaman ini pemakaian logam sebagai peralatan sehari-hari, bahkan sebagai perhiasan, peralatan masak, atau bahkan peralatan perang.
2.      Zaman modern
Zaman ini sebenarnya sudah terintis mulai dari abad 15 M. Tetapi, indikator yang nyata terlihat jelas pada abad 17 M dan berlangsung hingga abad 20 M. Hal ini ditandai dengan ditandai dengan adanya penemuan-penemuan dalam bidang ilmiah.[3] Menurut Slamet Iman Sontoso, ada tiga sumber pokok yang menyebabkan berkembangnya ilmu pengetahuan di Eropa dengan pesat, yaitu hubungan antara kerajaan Islam di Semenanjung Liberia dengan negara Perancis, terjadinya Perang Salib dari tahun 1100-1300, dan jatuhnya Istambul ke tangan Turki pada tahun 1453.[4]
Zaman ini sudah dimulai sejak abad 14 M. zaman ini juga dikenal sebagai masa rasionalisme yang tumbuh di zaman modern karena munculnya berbagai penemuan ilmu pengetahuan. Tokoh yang menjadi pioner pada masa ini adalah Rene Decrates, Isaac Newton, Charles Darwin, dan JJ. Thompson.
3.      Zaman Kontemporer
Zaman ini bermula dari abad 20 M dan masih berlangsung hingga saat ini. Zaman ini ditandai dengan adanya teknologi-teknologi canggih, dan spesialisasi ilmu-ilmu yang semakin tajam dan mendalam. Pada zaman ini bidang fisika menempati kedudukan paling tinggi dan banyak dibicarakan oleh para filsuf. Hal ini disebabkan karena fisika dipandang sebagai dasar ilmu pengetahuan yang subjek materinya mengandung unsur-unsur fundamental yang membentuk alam semesta.
Sebagian besar aplikasi ilmu dan teknologi di abad 21 merupakan hasil penemuan mutakhir di abad 20. Pada zaman ini, ilmuwan yang menonjol dan banyak dibicarakan adalah fisikawan. Bidang fisika menjadi titik pusat perkembangan ilmu pada masa ini. Fisikawan yang paling terkenal pada abad ke-20 adalah Albert Einstein.[5] Ia lahir pada tanggal 14 Maret 1879 dan meninggal pada tanggal 18 April 1955 (umur 76 tahun).
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
     Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur serta dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris.
Adapun sejarah atau periodisasi perkembangan ilmu pengetahuan (science) dari masa ke masa, dimulai dari era Pra Yunani Kuno atau zaman purba sampai zaman kontemporer. Yaitu :
1.      Zaman Pra Yunani Kuno (Zaman Purba)
Pada era ini, secara umum terbagi menjadi tiga fase, yaitu: Zaman Batu Tua (masa prasejarah, era ini berlangsung sekitar empat juta tahun SM (sebelum Masehi) sampai 20.000 atau 10.000 tahun SM), Zaman Batu Muda (berlangsung tahun 10.000 SM sampai 2.000 SM atau abad 100 sampai 20 SM) dan Zaman Logam (berlangsung dari abad 20 SM sampai abad 6 SM).
2.      Zaman modern (Zaman ini sebenarnya sudah terintis mulai dari abad 15 M. Tetapi, indikator yang nyata terlihat jelas pada abad 17 M dan berlangsung hingga abad 20 M).
3.      Zaman Kontemporer (Zaman ini bermula dari abad 20 M dan masih berlangsung hingga saat ini).



[1] Conny R. Semiawan, dkk. Dimensi Kreatif Dalam Filsafat Ilmu (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1999), 3.
[2] Sutarjo Adisusilo JR, Problematika Perkembangan Ilmu Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 1983), 29.
[3] Surajiyo, Filsafat Ilmu, 87.
[4] Tim Dosen Filsafat Ilmu, Filsafat Ilmu (Yogyakarta: Liberty, 2001), 79.
[5] Surajiyo, Filsafat Ilmu, 89.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU POLITIK



SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU POLITIK


Dalam perkembangannya ilmu politik terus mengalami kemajuan dari masa ke masa. Seiring dengan kemajuan tersebut ilmu politik terus memperbaiki komponen-komponen data-data yang ada didalamnya. Serta terus berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya.Sehingga tanpa disadari ilmu politik selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik sesama individu, individu dan kelompok, sesama kelompok, dan antar Negara. [1]
            Ilmu politik merupakan ilmu yang tidak bisa diabaikan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam keseharian yang dijalani, ilmu ini terus dipakai tanpa disadari baik dalam kehidupan keluarga, lingkungan, masyarakat maupun Negara. Kali ini akan dijelaskan sejarah perkembangan ilmu politik.

BACA SELENGKAPNYA

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU SOSIOLOGI


Sosiologi merupakan suatu ilmu yang masih muda, walau telah mengalami perkembangan perkembangan cukup lama. Sejak manusia mengenai kebudayaan dan peradaban, masyarakat manusia sebagai proses pergaulan hidup telah menarik perhatian. Awal mulanya, orang-orang yang meninjau masyarakat hanya tertarik pada masalah – masalah yang menarik perhataian umum.seperti kejahatan, perang, kekuasaan golongan yang berkuasa, keagamaan, dan lain sebagainya. Dari pemikiran serta penilaian yang demikian itu, orang kemudian meningkat pada filsafat kemasyarakatan, di mana orang menguraikan harapan-harapan tentang susunan serta kehidupan masyarakat  yang diingini yang ideal. Dengan demikian, timbullah perumusan nilai-nilai dan kaidah-kaidah yang seharusnya ditaati oleh setiap manusia  dalam hubungannya dengan manusia lain dalam suatu masyarakat. Yang dimaksud untuk menciptakan kehidupan yang bahagia dan damai bagi semua manusia selama hidup di dunia ini.

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN KALIGRAFI


A.     Sejarah Munculnya Kaligrafi Arab
Ungkapan Kaligrafi berasal dari kata latin “Kalios” yang berarti indah, dan kata “graph” yang berarti tulisan atau aksara. Arti seutuhnya dari kaligrafi adalah ilmu yang memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya dan cara-cara penerapannya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Kaligrafi merupakan seni arsitektur rohani, yang dalam proses penciptaannya melalui alat jasmani. Kaligrafi atau khath, dilukiskan sebagai kecantikan rasa, penasehat pikiran, senjata pengetahuan, penyimpan rahasia dan berbagai masalah kehidupan.[1]
Ada beberapa teori tentang awal mula Sejarah munculnya kaligrafi, diantaranya sebagai berikut:
1.      Teori Taufiqi
Munculnya teori ini bersumber dari penafsiran terhadap sumber-sumber islam yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Teori ini mengungkapkan bahwa bahasa Arab adalah pemberian dari Allah SWT (Taufiqi) kepada Nabi Adam A.S dan Nabi-nabi lainnya.[2]
Menurut Muhamad Ibn Yahya As-Suli dalam kitabnya Adab al-Kitab, ia mengambil riwayat dari Ka’ab bin al-Akhbar, Ibnu Abbas dan Ibnu Faris bahwa yang mebuat tulisan Arab, Suryani dan jenis tulisan lainnya adalah Nabi Adam As. ia menulisnya diatas tanah dan memahatnya. Ketika bumi tenggelam karena banjir
Di dalam al-Quran, dalil yang digunakan adalah pada Q.S. al-Alaq ayat 1-5 dan Q.S. al-Qalam ayat 1. Di dalam kedua surat tersebut disebutkan  kata-kata  iqra (bacalah)  dan  al-qalam (pena),  yang menunjukkan bahwa kemampuan membaca dan menulis adalah pemberian dari Allah SWT.[3]
2.      Teori Selatan
Menurut teori ini, bahasa Arab bersumber dari masyarakat Himyar di wilayah Yaman, sebelah selatan Jazirah Arab. Bahasa ini berkembang seiring dengan luasnya wilayah negeri Saba dan Himyar. Namun tidak ada bukti fisik yang dijadikan rujukan, tetapi statemen para pelaku sejarah yang ditulis oleh para pakar Islam. Misalnya oleh al-Qalqasyandi: Dikatakan  di hadapan Abu Sufyan bin Umayyah, paman Abu Sufyan bin Harb, awal munculnya tulisan adalah dari Yaman.[4]
Ibnu Khaldun memperkuat pendapat teori ini dalam Muqaddimah, bahwa khat Arab yang pertama dikenal adalah khat Himyari dan kemudian tersebar ke Hirah, Tha’if dan Quraisy.[5]
3.      Teori Utara
Teori  ini  juga  menganggap bahwa tulisan  Arab bukan semata- mata  pemberian langsung dari Allah swt., tetapi  proses perkembangan yang dilakukan oleh manusia sendiri. Teori ini disebut juga dengan teori Hirah. Teori ini didukung oleh data-datfisik yang berupa batu ukiran dengan tulisan model Nabati.
Teori ini didasarkan atas riwayat Ibn Abbas bin Hisyam tentang cerita al-Balazari mengenai tiga orang dari kaum Thay’ di Baqqah, Maramir bin Murrah, Aslam bin Sadrah, dan’Amir bin Jadrah. Mereka mengukir huruf hijaiyah dengan model tulisan Suryani, Balok dan Latin.[6]
4.      Teori Baru
Teori ini banyak digunakan oleh kalangan peneliti. Menurut teori ini, tulisan Arab berasal dari al-Anbat (Nabatea). Mereka adalah masyarakat Arab yang berada dibawah pengaruh peradaban dan budaya Aramic. Dimana bahasa yang digunakan adalah perpaduan antara bahasa Arab dan bahasa Aram. Pusat pemerintahannya berada di Batrah. Oleh karena itu tulisannya disebut tulisan Aram.[7]

B.      Perkembangan Kaligrafi
1.      Pada Masa Pra Islam
Pada masa pra-Islam, pengembangan tulisan mulai dari model tulisan sederhana hingga sampai pada model simbolis. Berikut adalah masa perkembangannya:
        I.            Masa tulisan gambar
Pada masa ini, tulisan berupa gambar yang disadur dari alam dan memiliki  arti  sesuai dengan gambatersebut.  Misalnya: gambar batu, artinya memang batu. Tidak ada arti lain yang lebih luas atau berbeda dari gambarnya.
      II.            Masa tulisan simbol arti
Pada masa ini, tulisaadalah berupa gambar yang disadur dari alam, tetapi  gambar tersebut  memiliki arti yang lebih luas dan berbeda dari  gambar  semestinya.  Misalnya:  gambamatahari  sebagai  lambing siang  hari  atau  terang.  Akan  tetapi   gambar  tersebut  bukan  berupa lambang bunyi yang dijadikan sebagai alat komuniasi verbal.

2.      Masa Rasulullah SAW dan Khulafa’ al-Rasyidin.
Pada masa Rasulullah saw, masyarakat Arab sudah memiliki tulisan sendiri meskipun masih sangat sederhana, yakni dengan model Kufi klasik yang tidak memiliki penanda vokal (syakal) dan pembeda konsonan (jumlah dan posisi titik  pada  huruf yang sama).  Selain itu,  masih  belum di kenal penanda kalimat yang berupa titik, koma, ataupun hiasan tulisan.
Berikut ini adalah contoh tulisan Arab di masa Rasulullah saw yang ditulis oleh sahabat Rasulullah saw Al-‘A’la al-Hadrami dalam bentuk surat resmi kepada Mundzir bin Sawi seorang raja di daerah Bahrain yang berisiskan ajakan untuk memeluk Islam:[8]
Transliterasi dalam bentuk tulisan Arab:
بسم الله الرحمن الرحيم من رسول الله إلى
المنذر بن ساوي سلام عليك فإني أحمد الله
إليك الذي لا إله غيره وأشهد أن لا إله إلا
الله وأن محمدا عبده ورسوله أما بعد فإني أذكر
ك الله عز وجل فإنه ينصح فإنما ينصح لنفسه وإنه من يطع
رسلي قد أثنو عليك بخير الله وقد شفعتك في
قومك فاترك للمسلمين ما أسلمو عليه وعفوت عن أهل
الذنوب فاقبل منهم وإنك مهما تصلح فإن نعزلك عن عملك ومن
ما مر من يهوديته أو مجوسيته فعليه الجزية.

3.      Pada Masa Periode Bani Umayyah
Pada Masa ini mulai muncul “Nuqthah” atau titik dalam huruf untuk membedakan satu huruf dengan yang lainnya. Dan “Syakal” atau baris untuk mempermudah pelafalan bunyi konsonan huruf.[9]
Pada masa ini telah muncul gaya-gaya penulisan khat diantaranya mudawwar (bundar), mutsallats (segitiga), dan ti’im (kembar). dari tiga gaya tersebut muncul berbagai variasi tulisan seperti mail (miring), Masyq (membesar), Naskh (inskriptif), dan Khufi. Dari beberapa variasi tersebut Naskh dan Khufi adalah model variasi yang paling banyak diminati dan berkembang menjadi menjadi model-model lain.
Diantara kaligrafer Bani Umayyah yang paling termashyur mengembangkan tulisan kursif adalah Qutbah al-Muharrir. Ia menemukan empat tulisan yaitu Thumar, Jalil, Nisf danTsuluts. Keempat tulisan ini saling melengkapi antara satu gaya dengan gaya lain sehingga menjadi lebih sempurna. Tulisan Thumar yang berciri tegak lurus ditulis dengan pena besar pada tumar-tumar (lembaran penuh, gulungan kulit atau kertas) yang tidak terpotong. Tulisan ini digunakan untuk komunikasi tertulis para khalifah kepada amir-amir dan penulisan dokumen resmi istana. Sedangkan tulisan Jalil yang berciri miring digunakan oleh masyarakat luas.
4.      Pada Masa Periode Bani Abbasiyyah
Gaya dan teknik menulis kaligrafi semakin berkembang terlebih pada periode ini semakin banyak kaligrafer yang lahir, diantaranya Ad-Dahhak ibn 'Ajlan yang hidup pada masa Khalifah Abu Abbas As-Shaffah (750-754 M) dan Ishaq ibn Muhammad pada masa Khalifah al-Manshur (754-775) dan al-Mahdi (775-786). Ishaq memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan tulisan Tsuluts dan Tsulutsain dan mempopulerkan pemakaiannya.
Adapun kaligrafer periode Bani Abbasiyah yang tercatat sebagai nama besar adalah Ibnu Muqlah. Ibnu Muqlah berjasa besar bagi pengembangan tulisan kursif karena penemuannya yang spektakuler tentang rumus-rumus geometrikal pada kaligrafi yang terdiri dari tiga unsur kesatuan baku dalam pembuatan huruf yang ia tawarkan yaitu: titik, huruf alif, dan lingkaran. Menurutnya setiap huruf harus dibuat berdasarkan ketentuan ini dan disebut al-Khat al-Mansub (tulisan yang berstandar). Ia juga mempelopori pemakaian enam macam tulisan pokok (al-Aqlam as-Sittah) yaitu Tsuluts, Naskhi, Muhaqqaq, Raihani, Riqa' dan Tauqi' . Tulisan Naskhi dan Tsuluts menjadi populer dipakai karena usaha Ibnu Muqlah yang akhirnya bisa menggeser dominasi khat Kufi.
Selain Ibnu Muqlah, Khalid bin Abi Hiyaj adalah salah satu kaligrafer yang terkenal pada masa ini. Ia berjasa dalam penulisan mushaf pada masa permulaaan.[10]
5.      Perkembangan Kaligrafi di Indonesia
Di Indonesia, kaligrafi merupakan bentuk seni budaya Islam yang pertama kali ditemukan, bahkan ia menandai masuknya Islam di Indonesia. Ungkapan rasa ini bukan tanpa alasan karena berdasarkan hasil penelitian tentang data arkeologi kaligrafi Islam yang dilakukan oleh Prof. Dr. Hasan Muarif Ambary, kaligrafi gaya kufi telah berkembang pada abad ke-11, datanya ditemukan pada batu nisan makam Fatimah binti Maimun di Gresik (wafat 495 H/ 1082 M) dan beberapa makam lainnya dari abad-abad ke-15. Bahkan diakui pula sejak kedatangannya ke Asia Tenggara dan Nusantara, disamping dipakai untuk penulisan batu nisan [ada makam-makam, huruf arab tersebut (baca: kaligrafi) memang juga banyak dipakai untuk tulisan-tulisan materi pelajaran, catatan pribadi, undang-undang, naskah perjanjian resmi dalam bahasa setempat, dalam mata uang logam, stempel, kepala surat dan sebagainya. Huruf Arab yang dipakai dalam bahasa setempat tersebut diistilahkan dengan huruf Arab Melayu, Arab Jawa atau Arab Pegon.
Pada abad XVIII-XX, kaligrafi beralih menjadi kegiatan kreasi seniman Indonesia yang diwujudkan dalam aneka media seperti kayu, kertas, logam, kaca dan media lainnya. Termasuk juga untuk penulisan mushaf-mushaf al-Qur'an tua dengan bahan kertas deluangdan kertas murni yang diimpor. Kebiasaan menulis al-Qur'an telah banyak dirintis oleh para ulama besar di pesantren-pesantren smenjak abad ke-16, meskipun tidak semua ulama dan santri yang piawai menulis kaligrafi dengan indah dan benar. Amat sulit mencari seorang khattat yang ditokohkan di penghujung abad ke-19 atau awal abad ke-20, karena tidak ada guru kaligrafi yang mumpuni dan tersedianya buku-buku pelajaran yang memuat kaidah penulisan kaligrafi. Buku pelajaran tentang kaligrafi pertama kali baru keluar sekitar 1961 karangan Muhammad Abdur Muhili berjudul "Tulisan Indah" serta karangan Drs. Abdul Karim Husein berjudul "Khat, Seni Kaligrafi: Tuntunan Menulis Halus Huruf Arab" tahun 1971.

Pada tahun 1985, KH. Didin Sirajuddin AR mendirikan LEMKA (Lembaga Kaligrafi dan Al-Qur’an). Lembaga ini pertama muncul di kawasan ciputat sekitar Universitas Islam Indonesia dan kini berpusat di kelurahan Kramat Kota Sukabumi.[11]

DAFTAR PUSTAKA:
Didin Sirojuddin, Seni Kaligrafi Islam, Cet. I (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000)
Ibnu Khaldun, Muqaddimah,. (Beirut: Darul Kitab al-Lubnani, 1979).
Salih Ibrahim al-Hasan, Al-Kitabah al-Arabiyyah min an-Nuqusy Ila kitab al-Makhtuht, (Riyadh: Darul Fayshal ats-Tsaqafy, 2003)
Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, (t.t: Darul Gharb al-Islami, 1994)
http://ponpes-lemka.blogspot.com/2008/10/home.html



[1] Didin Sirojuddin, Seni Kaligrafi Islam, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2000) hlm. 3-5
[2] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, (Darul Gharb al-Islami, 1994) hlm. 18
[3] Salih Ibrahim al-Hasan, Al-Kitabah al-Arabiyyah min an-Nuqusy Ila kitab al-Makhtuht, (Riyadh: Darul Fayshal ats-Tsaqafy, 2003) hlm. 18
[4] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 18-19
[5] Ibnu Khaldun, Muqaddimah,. (Beirut: Darul Kitab al-Lubnani, 1979) hlm. 746
[6] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 21
[7] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 21
[8] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 64
[9] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 83
[10] Yahya Wahib al-Jaburi, Al-Khath wa al-Kitabah fi al-Hadarah al-Arabiyyah, hlm. 113
[11] Materi diakses dari:
http://ponpes-lemka.blogspot.com/2008/10/home.html