PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an sebagai kitab suci rahmatan lil ‘alamin, rahmat
bagi seluruh alam yang didalamnya mengandung berbagai macam ilmu, hukum,
teologi, sosial, dan sebagainya. Untuk itu perlu mengetahui dan memahami
perbedaan bacaan al-quran serta implikasinya terhadap makna dari lafal itu
sendiri.
Al-Qur’an dipelajari untuk memahami makna atau pesan dibalik teks. Maka untuk mendapatkan makna yang sesuai dengan Al-Qur’an perlu memahami qira’at dan cara membaca Al-Qur’an dengan benar, cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar bisa dipelajari dengan ilmu tajwid.
Al-Qur’an dipelajari untuk memahami makna atau pesan dibalik teks. Maka untuk mendapatkan makna yang sesuai dengan Al-Qur’an perlu memahami qira’at dan cara membaca Al-Qur’an dengan benar, cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar bisa dipelajari dengan ilmu tajwid.
B.
Sejarah Ilmu Tajwid
Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu Tajwid, maka
kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Qur’an itu
diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini kerena Rasulullah SAW sendiri diperintah
untuk membaca al-Qur’an dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam surat al-Muzammil ayat 4.
"Bacalah al-Quran itu dengan tartil
(perlahan-lahan)."
Kemudian Nabi
Muhammad SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Sayyidina Ali
r.a apabila ditanya tentang apakah maksud bacaan al-Qur’an secara tartil itu,
maka beliau menjawab "adalah membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan
pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul”.
Ini
menunjukkan bahwa pembacaan al-Qur’an bukanlah suatu ilmu hasil dari Ijtihad
(fatwa) para ulama' yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan
Sunnah, tetapi pembacaan al-Qur’an adalah suatu yang Taufiqi (diambil terus)
melalui riwayat dari sumbernya yang asli, yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah
SAW.
Para
sahabat r.a adalah orang-orang yang amanah dalam mewariskan bacaan ini kepada
generasi umat Islam selanjutnya. Mereka tidak akan menambah atau mengurangi apa
yang telah mereka pelajari itu, karena rasa takut mereka yang tinggi kepada
Allah SWT dan begitulah juga generasi setelah mereka.
Walau
bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu Tajwid yang paling awal
ialah apabila bermulanya kesadaran perlunya Mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh
Sayyidina Utsman itu diletakkan titik-titik kemudiannya, baris-baris bagi
setiap huruf dan perkataannya. Gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad
Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Apabila pada masa itu Khalifah umat
Islam memikul tugas untuk berbuat demikian ketika umat Islam mulai
melakukan-kesalahan dalam bacaan.
Ini karena semasa Sayyidina Utsman menyiapkan Mushaf
al-Qur’an dalam enam atau tujuh buah itu. beliau telah membiarkannya tanpa
titik-titik huruf dan baris-barisnya karena memberi keluasan kepada para
sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka
telah ambil dari Rasulullah SAW sesuai dengan Lahjah (dialek) bangsa Arab yang
bermacam-macam. Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah
Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat Islam pada tahun 1 dan 2
Hijriah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang
ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak
dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-Qur’an. Maka
al-Qur’an Mushaf Utsmaniah telah diusahakan untuk menghindari
kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada
huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qira’at yang paling awal sepakat, yang
diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu 'Ubaid
Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya "Al-Qira’at" pada kurun ke-3
Hijriah.
Akan tetapi ada
yang mengatakan, apa yang telah disusun oleh Abu 'Umar Hafs Ad-Duri dalam
ilmu Qira’at adalah lebih awal. Pada kurun ke-4 Hijriah pula, lahir
Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya "Kitabus Sab'ah", dimana
beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qira’at kepada tujuh imam
bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan Mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh
naskah. Kesemuanya pada masa itu karangan ilmu tajwid yang paling awal,
barangkali tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu
tajwid pada akhir kurun ke-3 Hijriah adalah yang terulung.
Selepas itu lahirlah para ulama yang tampil memelihara kedua
ilmu ini dengan karangan-karangan mereka dari masa ke
masa seperti Abu 'Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir, Imam Asy-Syatibi
Tahani dengan kitabnya "Hirzul Amani wa Wajhut Tahani" yang menjadi
tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah
mereka. Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah ilmu tajwid dan
ilmu qira’at senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan
pembahasannya, penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka. Kemudian
lahir pula seorang tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qira’at yaitu
Imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan
beliau yang masyhur yaitu "An-Nasyr", "Toyyibatun Nasyr"
dan "Ad-Durratul Mudhiyyah" yang mengatakan ilmu qira’at adalah
sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan Imam Asy-Syatibi dalam
kitabnya "Hirzul Amani" sebagai qira’at tujuh. Imam Al-Jazari juga
telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu tajwid dalam
kitabnya "At-Tamhid" dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama
"Matan Al-Jazariah". Imam Al-Jazari telah mewariskan
karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya, yang kemudian
menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qira’at serta
bacaan al-Qur’an hingga hari ini.
C. Sejarah
Perkembangan Ilmu Tajwid
Dari
sejarah pula, perkembangan ilmu tajwid bermula sejak zaman Rasulullah SAW,
Rasulullah menerima wahyu dari Jibril sudah dengan bertajwid, hanya pada masa
itu tidak ditekankan hukumnya dengan terperinci dan dibukukan. Orang yang
mula-mula sekali membukukan ilmu ini ialah Imam Al-‘Azim Abu Abid Qasim bin
Salam pada kurun yang ke 3 Hijriah. Namun ada pendapat lain pula mengatakan, orang yang
mula-mula membukukan ilmu ini ialah Hafs bin ‘Umar al-Duri.
Ilmuwan sejarah
juga menyatakan perkembangan ilmu tajwid di zaman Rasulullah SAW seiring dengan
perkembangan ilmu-ilmu lain. Walaupun begitu, seluruh hukum yang berkaitan
seperti hukum nun sakinah, mim sakinah, mad, waqaf dan sebagainya belum
dinamakan dan dibukukan.
Penulisan
dalam ilmu tajwid sejak dulu dan sekarang tidak begitu banyak, puncak utama
ialah karena pembahasan ilmu itu sendiri yang tidak begitu meluas dan kandungan
babnya tidak banyak. Selain dari itu ia lebih tertumpu kepada latihan amali dan
jarang sekali didapati ia diajar dalam bentuk kuliah dan perbincangan hukum
semata-mata. Kitab yang pertama dalam ilmu tajwid ialah dalam bentuk nazam
(syair). Ia telah dihasilkan oleh Abu Mazahim al-Khaqani yang wafat pada tahun
325 hijrah yaitu di akhir kurun yang ke 3 hijrah. Nazam tersebut dianggap yang
terawal dalam ilmu tajwid.
Mengikut
sejarah perkembangan ilmu tajwid, penyusun ilmu tajwid yang pertama dalam
bahasa Melayu adalah seorang ulama yang bernama Muhammad Salih bin Ibnu Mu’ti
bin Syeikh Muhammad Salih al- Kalantani. Asal usulnya tidak diketahui tetapi
mengikut sejarah nama di akhir adalah al-Kalantani, berkemungkinan beliau
berasal dari Kelantan. (nama ini terdapat dalam sebuah buku karya beliau).
Berdasarkan
kepada bukunya mengenai ilmu tajwid, yang bertajuk “Mir’atul Quran fi Tashili
Ma’rifati Ahkamit Tajwid lil Mulkil Wahhab” dihasilkan pada tahun 1193H
bersamaan 1779M adalah tarikh terawal mengenai ilmu itu yang ditulis dalam
bahasa Melayu. Beliau juga telah mengambil kitab tafsir Bahasa Melayu
“Turjumanul Mustafid”, Karya Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri yang merupakan
terjemahan dan tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Melayu. Buku ilmu
tajwid karya Ibnu Syeikh Abdul Mu’ti ini telah disalin semula oleh Tuan Guru
Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu bermula pada tahun 1235 H (1819) M
dan disiapkan pada tahun 1265 H bersamaan 1848 M. (mengambil masa sekitar 42
tahun untuk menyiapkannya).
Terdapat juga beberapa orang ulama dari kerajaan Sambas,
Indonesia yang telah menulis ilmu tajwid dalam versi Melayu, diantaranya ialah
Haji Khairuddin ibnu Haji Qamaruddin Sambas, yang telah menulis beberapa buah
buku termasuklah ilmu tajwid tetapi tidak dinyatakan tarikhnya. Kandungannya
membincangkan ilmu tajwid secara lengkap untuk peringkat asas (Koleksi tulisan
Allahyarham Wan Mohd Shaghir Abdullah, internet 5 Mei 2008 - senin). Seorang
lagi Ulama Sambas yang menulis tajwid ialah Haji Mohd Yasin bin Al-Haji
Muhammad Sa’ad Sambas di mana buku tajwid yang ditemui di karang oleh beliau
ialah “ Ilmu Tajwid”.
Buku ini diselesaikan di Mekah waktu Dhuha, hari Sabtu
bersamaan 20 Syawal 1285 H. Kandungannya menjelaskan tentang ilmu Tajwid
al-Quran. Pada bagian awal ditulis dalam Bahasa Arab yang diberi makna dalam
bahasa Melayu. Bagian kedua semuanya menggunakan bahasa Melayu. Manuskrip ini
diperoleh di Pontianak Kalimantan Barat. Ia pernah dimiliki oleh salah seorang
keturunan Kerabat Diraja Kerajaan Pontianak. Tarikh Perolehan ialah pada 11
Rabiulawal 1423 H hari Jumat bersamaan 24 Mei 2002 M.
KESIMPULAN
Dari
uraian singkat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tajwid telah dikenal pada
masa Rasulullah SAW, karena pada saat itu masyarakat sudah tahu cara membaca
al-Qur’an dengan benar. Adapun hubungan qira’at dengan tajwid
ialah, tajwid lebih bersifat teknis dengan upaya memperindah bacaan al-Qur’an
dengan cara membunyikan huruf-huruf al-Qur’an sesuai dengan makhraj serta
sifat-sifatnya. Adapun qira’at lebih substansial, yaitu pengucapan lafaz-lafaz
al-Qur’an, kalimat ataupun dialek kebahasaan. Jadi berbicara tentang tajwid tidak
turut pula ketinggalan untuk berbicara qira’at juga.
Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.
BalasHapus