Otomatis Muhammadiyah

Sabtu, 06 Desember 2014

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ILMU TAJWID


PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Al-Qur’an sebagai kitab suci rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam yang didalamnya mengandung berbagai macam ilmu, hukum, teologi, sosial, dan sebagainya. Untuk itu perlu mengetahui dan memahami perbedaan bacaan al-quran serta implikasinya terhadap makna dari lafal itu sendiri.
       Al-Qur
an dipelajari untuk memahami makna atau pesan dibalik teks. Maka untuk mendapatkan makna yang sesuai dengan Al-Qur’an perlu memahami qira’at dan cara membaca Al-Qur’an dengan benar, cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar bisa dipelajari dengan ilmu tajwid.
B.        Sejarah Ilmu Tajwid
Jika dibincangkan kapan bermulanya ilmu Tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula sejak dari al-Qur’an itu diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini kerena Rasulullah SAW sendiri diperintah untuk membaca al-Quran dengan tajwid dan tartil seperti yang disebut dalam surat al-Muzammil ayat 4.


"Bacalah al-Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)."
Kemudian Nabi Muhammad SAW mengajar ayat-ayat tersebut kepada para sahabat dengan bacaan yang tartil. Sayyidina Ali r.a apabila ditanya tentang apakah maksud bacaan al-Qur’an secara tartil itu, maka beliau menjawab "adalah membaguskan sebutan atau pelafalan bacaan pada setiap huruf dan berhenti pada tempat yang betul”.
Ini menunjukkan bahwa pembacaan al-Qur’an bukanlah suatu ilmu hasil dari Ijtihad (fatwa) para ulama' yang diolah berdasarkan dalil-dalil dari al-Qur’an dan Sunnah, tetapi pembacaan al-Qur’an adalah suatu yang Taufiqi (diambil terus) melalui riwayat dari sumbernya yang asli, yaitu sebutan dan bacaan Rasulullah SAW.
Para sahabat r.a adalah orang-orang yang amanah dalam mewariskan bacaan ini kepada generasi umat Islam selanjutnya. Mereka tidak akan menambah atau mengurangi apa yang telah mereka pelajari itu, karena rasa takut mereka yang tinggi kepada Allah SWT dan begitulah juga generasi setelah mereka.
Walau bagaimanapun, apa yang dikira sebagai penulisan ilmu Tajwid yang paling awal ialah apabila bermulanya kesadaran perlunya Mushaf Utsmaniah yang ditulis oleh Sayyidina Utsman itu diletakkan titik-titik kemudiannya, baris-baris bagi setiap huruf dan perkataannya. Gerakan ini telah diketuai oleh Abu Aswad Ad-Duali dan Al-Khalil bin Ahmad Al-Farahidi. Apabila pada masa itu Khalifah umat Islam memikul tugas untuk berbuat demikian ketika umat Islam mulai melakukan-kesalahan dalam bacaan.
Ini karena semasa Sayyidina Utsman menyiapkan Mushaf al-Qur’an dalam enam atau tujuh buah itu. beliau telah membiarkannya tanpa titik-titik huruf dan baris-barisnya karena memberi keluasan kepada para sahabat dan tabi’in pada masa itu untuk membacanya sebagaimana yang mereka telah ambil dari Rasulullah SAW sesuai dengan Lahjah (dialek) bangsa Arab yang bermacam-macam. Tetapi setelah berkembang luasnya agama Islam ke seluruh tanah Arab serta jatuhnya Roma dan Parsi ke tangan umat Islam pada tahun 1 dan 2 Hijriah, bahasa Arab mulai bercampur dengan bahasa penduduk-penduduk yang ditaklukkan umat Islam. Ini telah menyebabkan berlakunya kesalahan yang banyak dalam penggunaan bahasa Arab dan begitu juga pembacaan al-Qur’an. Maka al-Qur’an Mushaf Utsmaniah telah diusahakan untuk menghindari kesalahan-kesalahan dalam membacanya dengan penambahan baris dan titik pada huruf-hurufnya bagi karangan ilmu qira’at yang paling awal sepakat, yang diketahui oleh para penyelidik ialah apa yang telah dihimpun oleh Abu 'Ubaid Al-Qasim Ibnu Salam dalam kitabnya "Al-Qira’at" pada kurun ke-3 Hijriah.
Akan tetapi ada yang mengatakan, apa yang telah disusun oleh Abu 'Umar Hafs Ad-Duri dalam ilmu Qiraat adalah lebih awal. Pada kurun ke-4 Hijriah pula, lahir Ibnu Mujahid Al-Baghdadi dengan karangannya "Kitabus Sab'ah", dimana beliau adalah orang yang mula-mula mengasingkan qira’at kepada tujuh imam bersesuaian dengan tujuh perbedaan dan Mushaf Utsmaniah yang berjumlah tujuh naskah. Kesemuanya pada masa itu karangan ilmu tajwid yang paling awal, barangkali tulisan Abu Mazahim Al-Haqani dalam bentuk qasidah (puisi) ilmu tajwid pada akhir kurun ke-3 Hijriah adalah yang terulung.
Selepas itu lahirlah para ulama yang tampil memelihara kedua ilmu ini dengan karangan-karangan mereka dari masa ke masa seperti Abu 'Amr Ad-Dani dengan kitabnya At-Taysir, Imam Asy-Syatibi Tahani dengan kitabnya "Hirzul Amani wa Wajhut Tahani" yang menjadi tonggak kepada karangan-karangan tokoh-tokoh lain yang sezaman dan yang setelah mereka. Tetapi yang jelas dari karangan-karangan mereka ialah ilmu tajwid dan ilmu qira’at senantiasa bergandengan, ditulis dalam satu kitab tanpa dipisahkan pembahasannya, penulisan ini juga diajarkan kepada murid-murid mereka. Kemudian lahir pula seorang tokoh yang amat penting dalam ilmu tajwid dan qira’at yaitu Imam (ulama) yang lebih terkenal dengan nama Ibnul Jazari dengan karangan beliau yang masyhur yaitu "An-Nasyr", "Toyyibatun Nasyr" dan "Ad-Durratul Mudhiyyah" yang mengatakan ilmu qira’at adalah sepuluh sebagai pelengkap bagi apa yang telah dinyatakan Imam Asy-Syatibi dalam kitabnya "Hirzul Amani" sebagai qira’at tujuh. Imam Al-Jazari juga telah mengarang karangan yang berasingan bagi ilmu tajwid dalam kitabnya "At-Tamhid" dan puisi beliau yang lebih terkenal dengan nama "Matan Al-Jazariah". Imam Al-Jazari telah mewariskan karangan-karangannya yang begitu banyak berserta bacaannya, yang kemudian menjadi ikutan dan panduan bagi karangan-karangan ilmu tajwid dan qira’at serta bacaan al-Qur’an hingga hari ini.

C.      Sejarah Perkembangan Ilmu Tajwid
Dari sejarah pula, perkembangan ilmu tajwid bermula sejak zaman Rasulullah SAW, Rasulullah menerima wahyu dari Jibril sudah dengan bertajwid, hanya pada masa itu tidak ditekankan hukumnya dengan terperinci dan dibukukan. Orang yang mula-mula sekali membukukan ilmu ini ialah Imam Al-‘Azim Abu Abid Qasim bin Salam pada kurun yang ke 3 Hijriah. Namun ada pendapat lain pula mengatakan, orang yang mula-mula membukukan ilmu ini ialah Hafs bin ‘Umar al-Duri.
Ilmuwan sejarah juga menyatakan perkembangan ilmu tajwid di zaman Rasulullah SAW seiring dengan perkembangan ilmu-ilmu lain. Walaupun begitu, seluruh hukum yang berkaitan seperti hukum nun sakinah, mim sakinah, mad, waqaf dan sebagainya belum dinamakan dan dibukukan.
Penulisan dalam ilmu tajwid sejak dulu dan sekarang tidak begitu banyak, puncak utama ialah karena pembahasan ilmu itu sendiri yang tidak begitu meluas dan kandungan babnya tidak banyak. Selain dari itu ia lebih tertumpu kepada latihan amali dan jarang sekali didapati ia diajar dalam bentuk kuliah dan perbincangan hukum semata-mata. Kitab yang pertama dalam ilmu tajwid ialah dalam bentuk nazam (syair). Ia telah dihasilkan oleh Abu Mazahim al-Khaqani yang wafat pada tahun 325 hijrah yaitu di akhir kurun yang ke 3 hijrah. Nazam tersebut dianggap yang terawal dalam ilmu tajwid.
Mengikut sejarah perkembangan ilmu tajwid, penyusun ilmu tajwid yang pertama dalam bahasa Melayu adalah seorang ulama yang bernama Muhammad Salih bin Ibnu Mu’ti bin Syeikh Muhammad Salih al- Kalantani. Asal usulnya tidak diketahui tetapi mengikut sejarah nama di akhir adalah al-Kalantani, berkemungkinan beliau berasal dari Kelantan. (nama ini terdapat dalam sebuah buku karya beliau).
Berdasarkan kepada bukunya mengenai ilmu tajwid, yang bertajuk “Mir’atul Quran fi Tashili Ma’rifati Ahkamit Tajwid lil Mulkil Wahhab” dihasilkan pada tahun 1193H bersamaan 1779M adalah tarikh terawal mengenai ilmu itu yang ditulis dalam bahasa Melayu. Beliau juga telah mengambil kitab tafsir Bahasa Melayu “Turjumanul Mustafid”, Karya Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri yang merupakan terjemahan dan tafsir al-Quran yang pertama dalam bahasa Melayu. Buku ilmu tajwid karya Ibnu Syeikh Abdul Mu’ti ini telah disalin semula oleh Tuan Guru Haji Mahmud bin Muhammad Yusuf Terengganu bermula pada tahun 1235 H (1819) M dan disiapkan pada tahun 1265 H bersamaan 1848 M. (mengambil masa sekitar 42 tahun untuk menyiapkannya).
Terdapat juga beberapa orang ulama dari kerajaan Sambas, Indonesia yang telah menulis ilmu tajwid dalam versi Melayu, diantaranya ialah Haji Khairuddin ibnu Haji Qamaruddin Sambas, yang telah menulis beberapa buah buku termasuklah ilmu tajwid tetapi tidak dinyatakan tarikhnya. Kandungannya membincangkan ilmu tajwid secara lengkap untuk peringkat asas (Koleksi tulisan Allahyarham Wan Mohd Shaghir Abdullah, internet 5 Mei 2008 - senin). Seorang lagi Ulama Sambas yang menulis tajwid ialah Haji Mohd Yasin bin Al-Haji Muhammad Sa’ad Sambas di mana buku tajwid yang ditemui di karang oleh beliau ialah “ Ilmu Tajwid”.
Buku ini diselesaikan di Mekah waktu Dhuha, hari Sabtu bersamaan 20 Syawal 1285 H. Kandungannya menjelaskan tentang ilmu Tajwid al-Quran. Pada bagian awal ditulis dalam Bahasa Arab yang diberi makna dalam bahasa Melayu. Bagian kedua semuanya menggunakan bahasa Melayu. Manuskrip ini diperoleh di Pontianak Kalimantan Barat. Ia pernah dimiliki oleh salah seorang keturunan Kerabat Diraja Kerajaan Pontianak. Tarikh Perolehan ialah pada 11 Rabiulawal 1423 H hari Jumat bersamaan 24 Mei 2002 M.

KESIMPULAN

Dari uraian singkat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tajwid telah dikenal pada masa Rasulullah SAW, karena pada saat itu masyarakat sudah tahu cara membaca al-Quran dengan benar. Adapun hubungan qira’at dengan tajwid ialah, tajwid lebih bersifat teknis dengan upaya memperindah bacaan al-Qur’an dengan cara membunyikan huruf-huruf al-Qur’an sesuai dengan makhraj serta sifat-sifatnya. Adapun qira’at lebih substansial, yaitu pengucapan lafaz-lafaz al-Qur’an, kalimat ataupun dialek kebahasaan. Jadi berbicara tentang tajwid tidak turut pula ketinggalan untuk berbicara qiraat juga.

1 komentar: